`
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Saham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham. Tampilkan semua postingan

Wall Street Panik, Kekhawatiran Resesi Cengkeram Pasar

Saham-saham Wall Street jatuh pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, di tengah tekanan kekhawatiran resesi AS dan ekonomi global, karena kepanikan penjualan kembali menimpa pasar-pasar global. Indeks Dow Jones Industrial Average meluncur 733,08 poin atau 7,87 persen menjadi ditutup pada 8.577,91 dalam poin penurunan satu hari terburuk sejak bulan lalu ketika mencatat rekor penurunan 7777 poin dan persentase penurunan paling tajam sejak 1987.

Dalam sebuah peristiwa penurunan yang brutal, indeks Standard & Poor`s jatuh 90,17 poin atau 9,03 persen menjadi 907,84.Indeks saham reknologi komposit Nasdaq berkurang 150,68 poin atau 8,47 persen menjadi 1.628,33 dalam sesi kejam lainnya untuk saham, meski ada upaya penyelamatan besar-besaran untuk sektor perbankan yang "sakit"."Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," kata Al Goldman dari Wachovia Securities.

"Hari ini berkembang kekhawatiran bahwa kemerosotan ekonomi akan beralih menjadi kontraksi yang signifikan karena kebekuan kredit bulan-bulan lalu mulai menunjukkan kenaikan dalam data," kata para analis Charles Schwab dalam catatan pasar terbarunya."Penjualan ritel turun lebih besar dari perkiraan, dan survei manufaktur mencatat penurunan besar. Perusahaan-perusahaan sensitif ekonomi memasuki masa kemunduran."

Pasar-pasar utama dunia kembali berjatuhan, di London indeks FTSE 100 turun 7,16 persen sementara di Paris, indeks CAC 40, merosot 6,82 persen dan di Frankfurt, indeks DAX, turun 6,49 persen.Aksi pasar terjadi di tengah berita bahwa penjualan ritel AS turun 1,2 persen pada September, sebuah sinyal dari masalah mendalam untuk sebuah ekonomi yang sakitakibat pasar finansial yang memburuk dan kredit ketat.

Penurunan penjualan merupakan yang terbesar sejak Agustus 2005 dan lebih lemah daripada ekspektasi pasar turun 0,7 persen."Data penjualan ritel menggarisbawahi pasar yang lebih tertekan kekhawatiran sekarang, yang merupakan arah dari ekonomi," kata Gregory Drahuschak dari Janney Montgomery Scott.

"Situasai pasar kredit masih berubah terus menerus, namun para pedagang dalam banyak kasus melihat di luar ini dan merasa ragu berapa lama pelambatan ini akan berakhir."Carl Weinberg, kepala ekonom High Frequency Economics, mengatakan sekalipun aliran kredit diperbaiki, masalah belum berakhir."Ekonomi dunia masih di ambang resesi meski ada upaya penyelamatan pasar finansial global," kata Weinberg.

Sementara itu di Asia dan Eropa para investor melakukan aksi ambil untung setelah saham-saham di Wall Street berakhir melemah pada Selasa, meski diberitakan Washington akan menyuntikkan hingga 250 miliar dolar AS ke dalam bank-bank yang kesulitan dan membantu mengakhir krisis finansial terburuk sejak 1930.Di antara saham-saham dalam fokus, JPMorgan Chase turun 5,8 persen menjadi 38,49 dolar sekalipun telah mencatat laba lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ketiga. Wells Fargo, yang juga labanya lebih baik dari perkiraan, turun tipis 0,51 persen menjadi 33,35
dolar.

Raksasa chip komputer Intel turun 5,9 persen menjadi 14,99 dolar setelah labanya dilaporkan melampaui proyeksi.Saham utama lainnya, ExxonMobil turun 13,9 persen menjadi 62,35 dolar karena harga minyak mentah terus menurun. Rivalnya, Chevron merosot 12,5 persen menjadi 59,98 dolar.

Sementara obligasi "rally" dengan imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10-tahun berkurang menjadi 4,011 persen dari 4,023 persen pada Selasa dan obligasi negara bertenor 30-tahun turun menjadi 4,248 persen terhadap 4,260 persen. Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. ant/afp/kp.

Kamis, 16 Oktober 2008
By Republika Contributor

AS Suntik Modal Bank, Ekonom Merasa Lega

Amerika Serikat menyuntikkan 250 miliar dollar AS ke sejumlah lembaga keuangan. Upaya ini bertujuan menenangkan episentrum krisis keuangan, yang dimulai dari lembaga keuangan. Menurut IMF, dibutuhkan sekitar 1 triliun dollar AS modal baru untuk perbankan global, yang terjebak kredit macet di sektor perumahan AS.

Uni Eropa, Minggu (12/10), mencanangkan suntikan dan pertolongan ke sektor perbankan senilai 2,2 triliun euro (3,023 triliun dollar AS). Negara-negara di Asia dengan pemerintahan yang lebih kaya sudah terlebih dulu menyuntikkan modal sejumlah bank dan mengikuti langkah Eropa dengan menaikkan simpanan nasabah yang dijamin.

Dana 250 miliar dollar AS itu, menurut Menteri Keuangan AS Henry Paulson, Senin di Washington, bertujuan memperkuat modal sembilan bank. Ini bagian dari dana talangan 700 miliar dollar AS, yang sudah disetujui Kongres AS.

Kantor berita Reuters menyebutkan, bank-bank yang akan mendapat suntikan modal antara lain Bank of America Corp, Wells Fargo, Citigroup, JPMorgan Chase & Co, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Bank of New York Mellon Corp. Sebagian dari bank- bank ini telah menyesakkan nasabah dengan menjual produk investasi yang merobek kantong.

Suntikan modal ini membuat Pemerintah AS menjadi pemilik saham, tetapi tak mempunyai hak suara dalam rapat pemegang saham. Para eksekutif bank dilarang mendapatkan bonus besar.

Pemerintah AS secara temporer menjamin utang-utang dan pinjaman antarbank serta menjamin semua simpanan nasabah. ”Langkah ini akan menaikkan keyakinan publik terhadap sistem keuangan,” kata Paulson.

Sempat rusak

Paul Krugman, ekonom AS yang menerima Hadiah Nobel Ekonomi 2008, mengatakan, ”Saya kini lebih lega ketimbang pekan lalu.” Ia menilai pertolongan terhadap perbankan akan mampu meredakan kepanikan.

Pasar uang juga mulai lepas dari ketegangan. Suku bunga pinjaman antarbank di London (Libor) berjangka tiga bulan turun jadi 4,64 persen dari 4,75 persen. Pasar uang, yang berperan memperlancar transaksi global, mulai keluar dari lingkaran ketakutan. Namun, kerusakan sempat terjadi. Walau tak akan parah, ekonomi AS akan mengalami resesi. ”Krisis keuangan sempat mengganggu kelancaran bisnis dan konsumsi,” kata mantan Gubernur Bank Sentral AS, Paul Volcker.

Di sisi lain, upaya pertolongan pemerintah itu akan mengurangi kas negara. Semua langkah dinilai positif, tetapi hal terpenting adalah reaksi pasar terhadap defisit keuangan pemerintah.

Uni Eropa mengingatkan perlunya mengatur sektor keuangan, di mana para eksekutif memperkaya diri dan membiarkan perusahaan dililit utang. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Rabu, 15 Oktober 2008

Kompas

Pemerintah Jangan Intervensi ke Pasar

Baik pemerintah maupun bank sentral di setiap negara disarankan tidak melakukan intervensi berlebihan ke pasar keuangan yang saat ini sedang menurun. Intervensi tidak diperlukan karena pasar akan melakukan koreksi sendiri.

Hal itu disampaikan ahli keuangan, George Soros, dalam jumpa pers di Media Center Gedung IMF di Washington, Amerika Serikat, Minggu sore waktu setempat atau Senin (13/10) dini hari waktu Jakarta. ”Tren perdagangan di pasar keuangan akan senantiasa menunjukkan siklus naik turun,” tuturnya.

Soros membantah pendapat yang menyatakan hedge fund saat ini sengaja mendorong terjadinya krisis keuangan global, seperti pada 1998. ”Waktu itu, para spekulan hanya memanfaatkan pasar yang sedang menurun,” kata Soros yang 10 tahun lalu dikenal sebagai spekulan pasar uang.

Berbeda dengan Soros, Dana Moneter Internasional (IMF), sebagaimana disampaikan Managing Director IMF Dominique Strauss-Kahn, justru menyarankan agar pemerintah mengambil langkah antisipasi untuk memberi kepercayaan kepada pasar.

Pertumbuhan ekonomi

Isu yang mengemuka dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia tanggal 10-13 Oktober Di Washington DC AS, antara lain, adalah tentang penurunan pertumbuhan ekonomi dunia menyusul adanya krisis keuangan di AS. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan 3,7 persen dan 2009 sekitar 3,8 persen.

Pertumbuhan ekonomi AS tahun ini sekitar 0,5 persen, tahun depan 0,6 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi di negara emerging market diperkirakan tetap kuat di level 7,5 persen (2008) dan 7,8 persen (2009).

Pertumbuhan ekonomi China tahun ini diperkirakan 9,3 persen dan 9,5 persen (2009). Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan 6,1 persen dan tahun depan 6,3 persen.

Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia menekankan pentingnya menjaga hubungan otoritas fiskal (pemerintah) dan otoritas moneter (bank sentral) masing-masing negara. Ini diperlukan agar dapat merespons secara bersama krisis keuangan saat ini.

>w 9536mw 9736m<

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Washington DC, AS)

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

9 BUMN Siap "Buy Back" Dana Rp 6 Triliun Tak Cukup untuk Angkat Harga Saham

Sembilan BUMN yang telah menjadi perusahaan terbuka atau go public siap melakukan program pembelian kembali saham atau buy back dari masyarakat. Total dana yang disiapkan perusahaan milik negara itu untuk pembelian kembali sahamnya sebesar Rp 6 triliun.

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil, Senin (13/10) di Jakarta, mengemukakan, program pembelian kembali saham BUMN itu untuk meningkatkan harga saham perusahaan BUMN yang belakangan terus merosot.

Selain itu, kata Sofyan, langkah tersebut juga akan mengembalikan harapan dan kepercayaan pelaku pasar bahwa saham BUMN layak dimiliki. ”Bagi BUMN, buy back saham kesempatan untuk diversifikasi portofolio. Selain itu, menunjukkan kepada investor bahwa saham BUMN worth to hold,” katanya.

Sembilan BUMN yang siap melakukan pembelian kembali sahamnya adalah PT Telkom Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk.

Sofyan menegaskan, pihaknya memberi kesempatan kepada BUMN dengan kinerja baik untuk membeli kembali saham-saham mereka dari masyarakat. Pembelian kembali dilakukan secara teratur dan terukur sehingga tidak melawan pasar.

”Total dana sebesar Rp 6 triliun itu tidak akan membebani perusahaan-perusahaan yang memiliki permodalan hingga puluhan triliun rupiah,” katanya.

Dari kas internal

Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk Sukrisno menyatakan, pihaknya telah menyiapkan dana untuk program pembelian kembali saham sebesar Rp 1 triliun, yang berasal dari kas internal perseroan.

Adapun PT Wijaya Karya Tbk (Wika) menyiapkan Rp 140 miliar. ”Harga saham Wika saat ini sudah sangat undervalued dan tidak mencerminkan kinerja bisnis dan potensi jangka panjang perseroan kami,” ujar Direktur Utama Wika Bintang Perbowo.

Sementara Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito menyatakan, proses pembelian kembali sudah dimulai sejak Senin (13/10). Dana yang digunakan berasal dari saldo laba tahun 2007 dan dana kelebihan perusahaan. Namun, tidak disebutkan total dana yang dicadangkan.

Presiden Direktur PT Askes Gede Subawa mengemukakan, pihaknya menyiapkan dana investasi sebesar Rp 100 miliar untuk membeli saham BUMN.

”Pembelian saham ini sesuai permintaan pemerintah untuk buy back saham BUMN. Meski demikian, kami tetap mengamankan likuiditas untuk pelayanan kesehatan,” kata Gede.

Menurut pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, dan Kepala Riset Recapital Poltak Hotradero, program pembelian kembali saham BUMN akan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap saham-saham BUMN.

Namun, Felix mengingatkan, hal itu hanya bersifat sementara. Dana sebesar Rp 6 triliun tidak akan cukup efektif untuk mengangkat harga saham-saham BUMN dalam jangka panjang. ”Dana sebesar itu tentu tidak sebanding dengan nilai kapitalisasi pasar bursa kita, yang lebih dari Rp 1.000 triliun,” papar Poltak. (LKT/RYO/REI).

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

Bursa Efek Berikan Sinyal Positif ;Menkeu: Pemerintah Tidak Panik

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mulai memberikan tanda-tanda membaik. Setelah pekan lalu anjlok cukup dalam, indeks harga saham gabungan pada perdagangan saham, Senin (13/10), akhirnya ditutup menguat.

IHSG ditutup naik 10,20 poin (0,7 persen) menjadi 1.461,87. Sekalipun tidak signifikan, penguatan sebesar 0,7 persen itu cukup melegakan pelaku pasar modal Indonesia karena sebelumnya banyak pihak memperkirakan IHSG masih akan mengalami koreksi tajam.

”Kami memperkirakan IHSG memang masih akan terkoreksi karena adanya penyesuaian dengan penurunan indeks bursa global saat bursa kami tutup, tetapi hari ini ternyata naik. Ini patut kita syukuri,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Pada Rabu lalu perdagangan seluruh saham dan derivatif di BEI dihentikan menyusul anjloknya IHSG hingga 10,38 persen. Penurunan itu dianggap cukup parah karena selama dua hari perdagangan sebelumnya IHSG juga telah terkoreksi 11,79 persen.

Selama BEI ditutup (Rabu- Jumat), Indeks Dow Jones Industrial Average telah terkoreksi lebih dari 10,54 persen. Anjloknya indeks paling berpengaruh di dunia itulah yang diperkirakan akan menekan IHSG pada perdagangan Senin.

Pada perdagangan sesi pertama, kemarin, IHSG memang sempat anjlok sampai 6 persen lebih. Namun, pada sesi kedua, IHSG mulai berbalik arah dan ditutup naik 0,7 persen.

Dari 204 saham yang diperdagangkan, 72 saham tercatat naik, 97 saham turun, dan 35 saham tetap. Jumlah transaksi tercatat sebanyak 73.726 kali dengan volume 11,32 miliar saham, senilai Rp 7,499 triliun.

Sebagian besar saham yang mengalami kenaikan harga adalah saham yang memiliki kapitalisasi besar, seperti saham PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Perusahaan Gas Negara.

Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, penguatan IHSG kemarin lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu menguatnya indeks bursa regional menyusul keluarnya pengumuman dari Bank Sentral Eropa yang menyatakan akan menjamin likuiditas perbankan.

Kemarin, hampir semua indeks bursa regional ditutup menguat. Indeks Straits Times di Singapura naik 6,57 persen, Indeks Hang Seng di Hongkong naik 10,25 persen, dan Indeks Shanghai di China naik 3,65 persen, sedangkan bursa Jepang masih belum dibuka menyusul anjloknya Indeks Nikkei 225 sebesar 9,62 persen, Jumat lalu.

Selain pengaruh membaiknya bursa regional, pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, perdagangan saham di BEI kemarin cukup stabil karena adanya aturan baru auto rejection atau penghentian perdagangan saham otomatis.

Menurut dia, aturan auto rejection yang baru—yang membatasi kenaikan dan penurunan harga saham maksimal 10 persen—membuat pergerakan IHSG menjadi tidak terlalu fluktuatif.

Pemerintah ”all out”

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di depan anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia menegaskan, pemerintah tidak panik dan tidak hanya memerhatikan harga saham. ”Itu pasti! Pemerintah fokus pada sektor yang sangat strategis, yaitu perbankan secara all out. Kinerja dan fungsi perbankan adalah jaminan pemerintah,” ujarnya.

Fokus kedua adalah pemerintah sangat perhatian pada upaya menjaga perekonomian, terutama pelaku ekonomi, baik besar, menengah, maupun kecil di pusat dan daerah, untuk tetap memiliki lingkungan bekerja dan berusaha yang sedapat mungkin diproteksi dari gelombang krisis.

Di Malang, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah sangat mewaspadai perkembangan krisis keuangan di AS dan mengamati perkembangan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Sri Mulyani kemudian meminta pengusaha betul-betul menjaga perekonomian Indonesia dengan menahan diri. Pemerintah dan Bank Indonesia akan memonitor tingkah laku individual pelaku usaha. Dalam situasi sekarang ini, kesalahan setitik saja akan berdampak sangat besar bagi perekonomian bangsa.

Dalam kesempatan itu, Menkeu membuka ruang untuk tetap melakukan ekspansi secara terukur tahun depan. Pemerintah akan tetap fokus pada konsolidasi APBN dan fiskal yang memperkuat neraca keuangan.

”Saya meminta semua pengusaha melihat masing-masing neraca keuangannya. Anda perlu melihat neraca ini untuk mereview. Kalau kemarin-kemarin melakukan ekspansi terlalu berlebihan dan risiko menjadi sangat besar, pengusaha tentu tidak mampu menghadapi dampak yang mengejutkan ini,” ujarnya.

Ekonom Ryan Kiryanto mengatakan, prospek perekonomian ke depan masih tetap kondusif. Alasannya, pertama harga saham di BEI sudah terbilang rendah sehingga ini merupakan momentum untuk membeli. Kedua, permintaan dollar AS makin berkurang. Ketiga, suku bunga acuan atau BI Rate jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga di negara-negara lain, terutama suku bunga Bank Sentral AS.

Keempat, operasi perusahaan terbuka masih berjalan normal sehingga prospek sahamnya masih bagus. Kelima, Indonesia punya sumber daya alam melimpah, seperti pertanian dan pertambangan, yang bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. (ody/REI/OSA/FAJ).

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

Fondasi Ekonomi Kuat ; Sebaiknya Utamakan Penguatan Perbankan ketimbang Pasar Modal

Meskipun indeks saham terpelanting amat dalam, fundamental ekonomi dinilai masih cukup kuat untuk meredam krisis keuangan global. Kendati begitu, tetap diperlukan berbagai kebijakan untuk menutup potensi risiko yang bisa menjerumuskan negeri ini ke dalam krisis.

Pelaku pasar dan masyarakat sebaiknya tidak panik menghadapi situasi saat ini karena kepanikan hanya akan merugikan semua pihak.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono akhir pekan lalu di Jakarta menjelaskan, fundamental perekonomian secara makro masih cukup baik. Hal itu terlihat dari sejumlah indikator, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, fluktuasi kurs, cadangan devisa, dan neraca perdagangan.

Industri perbankan, yang menjadi gerbang transmisi krisis, juga dalam kondisi fundamental yang bagus, tecermin dari situasi permodalan, kemampuan menyalurkan kredit, dan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).

Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, misalnya, sejak awal tahun hingga kini hanya terdepresiasi 2–3 persen, relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah berdasarkan kurs tengah BI ditutup di level Rp 9.651 per dollar AS.

Neraca perdagangan Indonesia selama Januari–Agustus 2008 masih surplus 8 miliar dollar AS. Dengan konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi yang masih tumbuh, pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diperkirakan tetap bisa mencapai di atas 6 persen. Adapun cadangan devisa sampai akhir September 2008 sebesar 57,11 miliar dollar AS.

Ekonom Faisal Basri menambahkan, daya tahan perekonomian Indonesia cukup kuat karena sektor keuangannya tak terkait erat dengan sektor finansial AS. Selain itu, porsi ekspor Indonesia ke AS, Eropa, dan Jepang sudah menunjukkan penurunan serta mulai bergeser ke negara berkembang dan ASEAN.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan, kondisi perbankan, yang jadi jantung perekonomian, juga memiliki fundamental kuat. NPL neto (setelah dikurangi provisi) hanya 1,42 persen, jauh di bawah batas maksimum, 5 persen.

Permodalan perbankan domestik, mencapai 17 persen, jauh di atas angka minimum 8 persen. Fundamental yang kuat tersebut akan membuat perbankan tetap optimal melakukan fungsi intermediasi untuk mendorong perekonomian.

Antisipasi krisis

Krisis pasar modal yang terjadi saat ini juga tergolong masih jauh dari krisis ekonomi. Kendati demikian, krisis di pasar modal tetap harus diwaspadai kemungkinannya bertransmisi menjadi krisis ekonomi. Jalur transmisi yang bisa memicu terjadinya krisis ekonomi ialah hancurnya sistem perbankan akibat penarikan dana masyarakat dan kebangkrutan sektor riil.

Sektor perbankan bisa menjadi pemicu krisis ekonomi karena sektor ini sangat dominan dalam stabilitas keuangan nasional.

Krisis di sektor perbankan bisa dimulai dengan terjadinya likuiditas yang amat ketat sehingga memicu kenaikan suku bunga dan kredit macet. Krisis perbankan biasanya berpuncak saat timbul ketidakpercayaan nasabah yang memicu terjadinya rush.

Kejatuhan sistem perbankan pada gilirannya akan mengimbas ke sektor riil. Sektor riil sulit mendapatkan kredit, baik untuk refinancing utang, kegiatan operasional, maupun ekspansi. Kinerja korporasi pun akan menurun sehingga berpotensi melakukan pemecatan karyawan. Pengangguran tinggi akhirnya menurunkan daya beli.

Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan lainnya sejauh ini telah mengambil sejumlah kebijakan untuk meredam krisis meluas ke sektor perbankan dan sektor riil.

Pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara mengemukakan, untuk meredam dampak krisis, ke depan, BI seharusnya lebih mementingkan penguatan daya beli untuk mendorong pertumbuhan ketimbang khawatir yang berlebihan terhadap penurunan nilai rupiah, baik inflasi maupun nilai tukar.

Turunkan BI Rate

Ini berarti BI sebaiknya menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate seperti yang dilakukan negara-negara lain. Dengan menurunkan suku bunga, suku bunga kredit juga akan turun. Suku bunga yang murah akan dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengajukan kredit investasi dan masyarakat untuk berkonsumsi. Dampaknya daya beli dan investasi tetap terjaga.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan, pemerintah seharusnya fokus mengamankan sektor perbankan ketimbang pasar saham.

Ia juga menyarankan agar nilai tukar rupiah dibiarkan saja tanpa banyak intervensi. ”Pelemahan rupiah masih wajar. Penguatan sistem perbankan otomatis akan meningkatkan kepercayaan pasar kepada rupiah,” katanya.

Selain melakukan langkah-langkah peredaman dampak krisis yang bersifat antisipasi di sektor keuangan, pemerintah juga sebaiknya melakukan langkah proaktif untuk mendorong sektor riil dan perekonomian domestik. Langkah ini penting untuk mengimbangi melemahnya perekonomian global yang akan memicu penurunan ekspor.

Pemerintah perlu segera merespons usulan-usulan Kadin untuk penguatan sektor riil. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud juga mengusulkan sejumlah langkah, antara lain memperketat impor barang jadi dan mencegah barang impor ilegal, memacu pembangunan infrastruktur, dan insentif pajak untuk perusahaan yang berorientasi ekspor seperti tekstil, industri hilir, dan industri padat karya.

Ketua Umum Masyarakat Profesional Madani Ismed Hasan Putro meminta pemerintah jangan terlalu fokus menyelamatkan pasar modal. ”Lebih baik dananya dipakai untuk sektor riil dengan menurunkan harga bahan bakar minyak,” katanya. (FAJ/REI)

Senin, 13 Oktober 2008

Kompas

Tak Akan Menjelma Jadi Krisis

Kejatuhan bursa saham dan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam sepekan ini dinilai kecil kemungkinan menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Demikian kesimpulan diskusi panel Kompas yang menghadirkan pengamat ekonomi Faisal Basri, Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara, serta Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud, Jumat (10/10) di Jakarta.

Para panelis menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Hal senada dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat terpisah. Menurut Kalla, sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wapres.

Faisal Basri mengingatkan, penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS.

Penurunan ekonomi AS dan Eropa juga tak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Tony Prasetiantono menjelaskan, krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial.

Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Mirza Adityaswara menambahkan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus lebih fokus menjaga ketahanan sistem perbankan. Sebab, kehancuran sektor inilah yang sebenarnya dapat memicu krisis ekonomi.

Kondisi perbankan juga sangat menentukan pertumbuhan ekonomi. Investasi swasta dan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi, amat mengandalkan kredit sebagai sumber pembiayaan.

Erwin Aksa Mahmud mengatakan, yang menjadi prioritas saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat tidak turun agar ekonomi tetap tumbuh. Caranya, memberikan insentif kepada sektor riil dan menyetop kenaikan suku bunga.

Batal buka BEI

Jumat kemarin, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

”Kami tidak ingin perusahaan Indonesia yang listed (terdaftar di BEI) menghadapi imbas yang tidak perlu, hanya karena masalah sistemik dari krisis keuangan global. Jadi, yang kami cari adalah waktu yang tepat (untuk membuka kembali bursa),” kata Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.

Penyesatan

Sementara itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui adanya penyesatan informasi atas perdagangan sejumlah saham di BEI. Penyesatan informasi tersebut telah mengakibatkan harga saham sejumlah emiten jatuh di posisi yang cukup rendah.

”Memang ada pihak-pihak yang kami curigai sengaja memberikan informasi yang salah supaya harga saham jatuh, lantas nanti ada yang mau ambil. Saya tak mau bilang siapa karena tidak etis,” kata Ahmad Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, sambil menambahkan, pihak yang menyesatkan informasi di pasar modal itu ada yang berasal dari kalangan investor dan ada dari perusahaan sekuritas atau broker.

Menurut dia, Bapepam-LK akan memeriksa investor dan broker yang diduga telah melanggar peraturan pasar modal itu setelah situasi mereda.(FAJ/REI/HAR/OIN)

Sabtu, 11 Oktober 2008
Kompas

Rp 4 Triliun untuk Beli Saham Program Buy Back Harus Selektif

Pemerintah menyiapkan dana Rp 4 triliun yang selama ini dialokasikan sebagai modal kerja Pusat Investasi Pemerintah atau PIP yang ada di bawah koordinasi Departemen Keuangan untuk membeli saham-saham yang mengalami penurunan harga, tetapi memiliki sifat strategis.

Ini adalah langkah pemerintah untuk mendorong perbaikan kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Kamis (9/10), untuk menjelaskan lima jurus yang disiapkan pemerintah dalam mengantisipasi tekanan krisis keuangan global.

Menurut Sri Mulyani, PIP berwenang mengalokasikan dana yang disediakan APBN pada investasi yang menguntungkan, termasuk kewenangan untuk berinvestasi di pasar modal, antara lain membeli surat-surat berharga, termasuk saham.

”Pemerintah dimungkinkan untuk melakukan pembelian saham. Saat ini ada dana Rp 4 triliun itu, tetapi jumlah dana yang akan digunakan untuk membeli saham masih akan ditetapkan nanti, setelah kami menganalisa nilai saham yang wajar,” paparnya.

Pemerintah bisa membeli saham BUMN yang sudah go public atau membeli saham emiten di luar BUMN. Pada kesempatan itu, BUMN sendiri diberi kewenangan untuk membeli kembali (buy back) saham-sahamnya yang turun harga.

Lima jurus

Dalam paparannya, Sri Mulyani menyebutkan ada lima jurus yang akan dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi krisis. Pertama, perubahan penetapan dasar harga efek di luar harga pasar pada saat harga yang ada di bursa diragukan kewajarannya. Kedua, merelaksasi ketentuan pembelian kembali saham oleh emiten atau perusahaan publik. Ketiga, melakukan operasi penambahan likuiditas melalui dana yang tersedia di APBN. Keempat, pembelian saham oleh PIP. Kelima, melakukan penegakan hukum.

”Langkah penegakan hukum akan didasarkan atas hasil observasi kami terhadap perilaku emiten, bukan hanya di hari Rabu kemarin saat kegiatan BEI disuspensi, tetapi juga observasi sejak tiga bulan lalu. Presiden sudah mengundang Polri, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menindak tegas secara hukum pelaku pelanggaran di Bursa,” ujarnya.

Terkait operasi tambahan likuiditas perbankan nasional melalui dana yang berada di APBN, Sri Mulyani mengatakan, pihaknya mengantungi dana Rp 130 triliun. Namun, anggaran yang sudah siap dicairkan pada Oktober 2008 adalah anggaran belanja kementerian dan lembaga nondepartemen sebesar Rp 25,9 triliun. Maka, realisasi anggaran belanja kementerian dan lembaga nondepartemen Januari-Oktober 2008 akan mencapai Rp 173 triliun, atau 59,7 persen dari total pagu anggaran belanja kementerian Rp 290 triliun.

Terkait kebijakan relaksasi ketentuan pembelian saham, Kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany menegaskan, pihaknya memperbesar jumlah saham yang dapat dibeli kembali dari semula maksimal hanya 10 persen menjadi 20 persen dari modal disetor, atau meningkat dua kali lipat. Bapepam-LK pun menghilangkan pembatasan pembelian saham sebesar 25 persen dari volume perdagangan harian sehingga emiten bisa membeli kembali sahamnya tanpa batas. Kedua ketentuan itu dapat dilakukan mulai 10 Oktober 2008 tanpa perlu ada persetujuan rapat umum pemegang saham.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, mengatakan, program buy back harus dilakukan secara selektif. Jika tidak, maka pihak yang banyak diuntungkan dari program tersebut justru investor asing. (oin/rei)

Jumat, 10 Oktober 2008
Kompas

Investor Panik, Perdagangan Dihentikan

Jakarta, Kompas - Otoritas Bursa Efek Indonesia akhirnya menghentikan sementara perdagangan (suspensi) seluruh saham dan derivatif, Rabu (8/10) pukul 11.06 WIB. Suspensi dilakukan karena penurunan indeks harga saham gabungan sudah berada di luar batas kewajaran.

Pada perdagangan saham sesi pertama kemarin, IHSG anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen menjadi 1.451,66 poin. Penurunan IHSG sedalam itu dinilai tidak masuk akal karena total nilai transaksi perdagangan saham dan derivatif (turunan saham) sampai menjelang suspensi dilakukan relatif kecil, hanya Rp 952,16 miliar.

”Kalau nilai perdagangan Rp 3 triliun-Rp 4 triliun, penurunan 10 persen mungkin masih bisa diterima akal karena saat ini seluruh bursa global juga terkoreksi. Namun, dengan nilai transaksi di bawah Rp 1 triliun, penurunan itu sangat irasional. Ada sesuatu yang tidak tepat,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Menurut Erry, BEI harus segera melakukan suspensi pada saat perdagangan saham tengah berlangsung untuk menghindari IHSG jatuh lebih dalam lagi. BEI melihat bahwa aksi jual saham secara membabi buta yang dilakukan investor masih akan terus berlanjut jika perdagangan tetap dibuka.

”Hari ini (kemarin) pasar sangat panik. Kami sedang mencermati faktor-faktor lain yang menyebabkan pasar kita turun di luar pengaruh sentimen negatif terhadap pelemahan bursa regional dan global,” kata Erry.

Menanggapi penghentian sementara perdagangan, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan tak bisa dihindari.

Sementara itu, semalam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat terbatas (ratas) yang membahas langkah pemerintah menyusul dihentikannya perdagangan saham di BEI. Dalam ratas itu hadir Wapres Jusuf Kalla, Deputi Gubernur Senior Miranda S Goeltom, Menteri Keuangan ad interim yang dijabat Menneg BUMN Sofyan Djalil, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Ketua Umum Kadin MS Hidayat. Hingga pukul 23.30 ratas masih berlangsung.

Akumulasi 22,17 persen

Anjloknya perdagangan saham membuat akumulasi penurunan IHSG selama tiga hari terakhir mencapai 22,17 persen. Senin lalu, IHSG anjlok 10,03 persen dan Selasa turun lagi 1,76 persen.

Jika dibandingkan dengan level IHSG pada 2 Januari 2008 yang berada di level 2.731,51, posisi IHSG kemarin telah merosot 46,85 persen. Atau jika dengan posisi tertinggi IHSG pada 9 Januari 2008 pada level 2.830,26 telah turun 48,70 persen.

Beberapa saat setelah suspensi, BEI menggelar konferensi pers mendadak. Seusai konferensi pers, BEI juga melakukan pertemuan tertutup dengan petinggi semua perusahaan sekuritas di Indonesia. BEI belum dapat memastikan sampai kapan perdagangan akan dihentikan.

Pengamat pasar modal, Adler Manurung, menilai koreksi mendalam terhadap IHSG kemarin tak hanya dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap pelemahan indeks bursa global menyusul krisis finansial di AS. Koreksi itu juga sangat dipengaruhi transaksi naked short selling yang dilakukan spekulan.

Transaksi naked short selling adalah aksi menjual saham oleh investor yang sama sekali tidak memiliki saham dan jaminan berupa dana di perusahaan sekuritas. Investor melakukan transaksi itu dengan harapan harga saham akan turun untuk kemudian dibeli kembali pada hari yang sama.

Sekalipun dilarang oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Adler memastikan transaksi itu marak terjadi di pasar modal Indonesia karena pelakunya tidak pernah diungkap dan ditindak.

Adapun sejumlah investor menilai kejatuhan bursa kemarin juga sangat dipengaruhi oleh penjualan saham secara paksa (forced sell) terkait dengan transaksi margin para investor. Dalam hal ini, perusahaan sekuritas menjual saham investor yang punya pinjaman pada harga berapa pun.

Komaruddin Muchtar, seorang investor, bercerita, ”Tadi sore saya dihubungi broker dan bilang saham-saham saya akan dijual paksa berapa pun harganya. Ini jelas akan membuat indeks makin terpuruk,” kata Komaruddin.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, memperkirakan, jual paksa ini masih akan terus terjadi saat perdagangan saham akan dibuka kembali. Menurut dia, jual paksa menjadi marak terjadi karena selama ini perusahaan sekuritas berlomba-lomba memberikan pinjaman dana kepada investor untuk membeli saham tanpa jaminan memadai.

”Saat saham jatuh seperti sekarang, broker tidak mau ambil risiko. Saham-saham investor pun diobral. Ini adalah akibat dari pasar kita yang sangat liar, tidak pernah diawasi,” katanya.

Pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, BEI dan Bapepam-LK harus segera menjelaskan kepada publik apa yang terjadi. Menurut dia, anjloknya IHSG lebih dari 20 persen selama tiga hari menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam struktur dan mekanisme investasi di BEI.

Kamis, 9 Oktober 2008
Kompas

Jelang Kenaikan BBM, IGHS BEI Turun 1,52 Persen


Jelang pengumuman kenaikan BBM membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, ditutup turun 1,52 persen.

IHSG ditutup turun 37,997 poin menjadi 2.465,955 dan indeks LQ45 melemah 9,195 poin atau 1,71 persen ke posisi 527,115.

Analis Riset PT Recaptal Securities, Poltak Hotradero, di Jakarta, Jumat, mengatakan, jelang pengumuman kenaikan BBM oleh pemerintah telah mendorong para pelaku pasar melakukan aksi ambil untung sehingga menekan indeks BEI.

Menurut Poltak, kenaikan BBM menyebabkan bertambahnya tekanan inflasi pada tahun ini, yang membuat para pelaku pasar merealisasikan keuntungannya.

Selain itu, lanjutnya, turunnya bursa regional yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia juga menekan indeks BEI di akhir pekan ini.

Bursa kawasan Asia ditutup turun, diantaranya bursa Hong Kong dengan indeks Hang Seng yang turun 329,04 poin menjadi 24.714,07 dan bursa Singapura dengan indeks Straits Times yang melemah 38,71 poin ke posisi 3.122,14 telah menekan perdagangan saham di BEI.

Kondisi ini telah membuat pergerakan saham di BEI didominasi saham yang turun sebanyak 145 dibanding yang naik 66, sedangkan 54 stagnan dan 198 efek tidak aktif diperdagangkan.

Beberapa saham unggulan yang memimpin indeks turun, diantaranya saham Bumi Resources yang terkoreksi Rp300 ke Rp8.000, Aneka Tambang melemah Rp225 ke posisi Rp3.375, Indo Tambangraya menurun Rp1.450 ke level Rp29.500, Telkom melorot Rp50 ke Rp8.600 dan Astra Internasional anjlok Rp550 menjadi Rp20.600.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan volume mencapai 5,146 miliar saham senilai Rp6,328 triliun dari 106.769 kali transaksi.

Media Indonesia
Jumat, 23 Mei 2008

Penutupan Sesi Pertama : ASII, BUMI, dan TLKM Tekan IHSG

Tertekannya saham-saham unggulan seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membuat perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif, meskipun saham sektor pertambangan dan perkebunan naik.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan Jumat (23/5/2008) ditutup menguat 7,75 poin ke 2.511,70. Indeks LQ45 naik 0,04 poin ke 536,35, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,88 poin ke 455,4.

Jumlah saham yang diperdagangakan sebanyak 2,944 miliar saham dengan nilai Rp3,215 triliun. Saham yang menguat sebanyak 122 jenis, melemah 48 jenis, dan stagnan 57 jenis saham.

Saham-saham yang menguat (top gainer) antara lain, PT Tambang Batubara Bukit AsamTbk (PTBA) naik Rp1.450 ke Rp13.400, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp1.000 ke Rp31.950, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp400 ke Rp27.100, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp400 ke Rp15.150.

Sementara, saham-saham yang melemah (top loser) antara lain, PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp250 ke Rp20.900, PT Indosat Tbk (ISAT) turun Rp200 ke Rp6.100, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) turun Rp150 ke Rp8.500, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun Rp50 ke Rp8.250.

wwwekozone.com
Jum'at, 23 Mei 2008

Wall Street tertekan penurunan penjualan SanDisk

Sebagian besar saham AS tertekan setelah SanDisk Corp mengatakan harga energi yang mencapai rekor memukul penjualan. Indeks Standard & Poor's 500 menguat ke level tertinggi sejak Januari karena terdorong oleh saham perusahaan minyak.

SanDisk anjlok terdalam sejak Maret perusahaan itu mengatakan penjualannya pada April lesu. Goldman Sachs Group Inc, Morgan Stanley dan Lehman Brothers Holdings Inc memotori penurunan saham keuangan setelah Citigroup Inc menurunkan perkiraan pendapatan sejumlah perusahaan terbesar di bursa Wall Street. Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp menguat, sehingga mendorong harga saham perusahaan energi mencapai rekor dan mengangkat Dow Jones Industrial Average, karena harga minyak mentah melonjak ke level di atas US$127 per barel.

Sekitar 15 saham tertekan untuk setiap 14 yang menguat di New York Stock Exchange. Indeks Standard & Poor's 500 naik 1,28 poin atau 0,1% ke 1.426,63. Dow average menguat 41,36 atau 0,3% jadi 13.028,16. Nasdaq Composite Index tertekan 12,76 atau 0,5% menjadi 2.516,09.

Indeks S&P 500 Information Technology tertekan 0,5%, yang merupakan penurunan terbesar di antara 10 industri. SanDisk anjlok US$2,42 atau 7,5% menjadi US$30,02. Apple Inc tergelincir US$4,02 ke US$183,60, Texas Instruments Inc menguat 74 sen menjadi US$32,53.

Goldman tertekan US$2,74 menjadi US$184,40, Morgan Stanley turun US$1,01 ke US$46,20, Lehman melemah 85 sen menjadi US$42,79, Lowe's Cos tergelincir 64 sen ke US$24,25.

Exxon melonjak US$1,69 menjadi US$94,36, Chevron naik US$1,82 menjadi US$102,20. Hargaminyak mentah untuk pengiriman Juni menguat 0,8% menjadi US$127,26 per barel di tengah sikap skeptis pasar bahwa keputusan Arab Saudi menaikkan produksi 300.000 barel per hari akan cukup untuk menurunkan harga.

Indeks S&P 500 Energy menguat 1% ke level tertinggi.

Union Pacific Corp naik 50 sen menjadi US$153,50, Burlington Northern Santa Fe Corp menguat 66 sen ke US$109,22, CSX Corp terangkat US$1,40 jadi US$66,94.

Amazon।com Inc naik US$5,83 atau 7,6% menjadi US$82,29, Microsoft Corp tertekan 1,8% jadi US$29,46, Yahoo! Inc menguat 2 sen ke US$27,68, National City Corp terangkat 30 sen atau 5,4% ke US$5,88.

Bisnis Indonesia
Selasa, 20/05/2008

BNI Securities dan Investindo diganjar sanksi Bapepam

Bapepam dan LK memberi sanksi tegas kepada PT BNI securities dan PT Investindo Nusantara Sekuritas menyusul pembatalan penawaran Umum PT Wahanaartha Harsaka Tbk pada 7 April 2008.
�
Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam dan LK Robinson Simbolon dalam pernyataannya hari ini mengungkapkan PT BNI Securities selaku penjamin emisi dikenakan sanksi administratif berupa pembekuan izin usaha Perusahaan Efek sebagai penjamin emisi efek selama tiga bulan.

Sementara PT Investindo Nusantara Sekuritas dikenakan sanksi administratif berupa pembekuan izin usaha Perusahaan Efek sebagai Penjamin Emisi Efek selama enam bulan.

Selain itu, Bapepam dan LK, juga memberi sanksi administratif terhadap Sdr. Jimmy selaku penanggung jawab dari PT BNI Securities dalam kaitannya dengan penjaminan Emisi Efek atas Penawaran Umum PT Wahanaartha Harsaka Tbk, berupa pembekuan izin orang perseorangan selaku Wakil Penjamin Emisi Efek selama tiga bulan.

Sanksi administratif serupa juga diberikan kepada Sdr. Alverno Julyardono Soenardji selaku penanggung jawab dari PT Investindo Nusantara Sekuritas dalam kaitannya dengan penjaminan Emisi Efek atas Penawaran Umum PT Wahanaartha Harsaka Tbk.

Sementara Sdr. Teddy Ardhika Wardhana selaku Konsultan Hukum dikenakan sanksi berupa pembekuan Sural Tanda Terdaftar selaku Konsultan Hukum Pasar Modal sesuai Surat Tanda Terdaftar Nomor: 361/PM/STTD-KH/2001 tanggal 6 April 2001 selama enam bulan

Kronologi kasus
Dijelaskan, kasus ini bermula karena pembatalan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek yang mengakibatkan pembatalan Penawaran Umum PT Wahanaartha Harsaka Tbk tanggal 7 April 2008 yang sebelumnya telah memperoleh Pernyataan Efektif dari Bapepam dan LK tanggal 31 Maret 2008.

Pembatalan Penawaran Umum tersebut disepakati dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh PT Wahanaartha Harsaka Tbk selaku Emiten, PT Investindo Nusantara Sekuritas dan PT BNI Securities selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek.

Pembatalan Penawaran Umum yang dilakukan tersebut tidak sesuai dengan informasi yang tertuang dalam Prospektus yang menyatakan bahwa Emiten dan Penjamin Pelaksana Emisi mempunyai hak untuk membatalkan Penawaran Umum sebelum penutupan atau selama masa Penawaran Umum (tanggal 2 s.d. 4 April 2008).

Sdr. Teddy Ardhika Wardhana, selaku Konsultan Hukum, telah memberikan pendapat hukum atas Kesepakatan Bersama dalam rangka pembatalan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek pada tanggal 7 April 2008,tanpa mempertimbangkan informasi atau fakta yang terdapat dalam Prospektus sebagaimana dimaksud dalam angka 2.

Pembatalan tersebut dapat mengakibatkan tidak terwujudnya kegiatan Pasar Modal Indonesia yang teratur, wajar dan efisien।

Bisnis Indonesia
Senin, 21/04/2008

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management