`
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Wall Street Panik, Kekhawatiran Resesi Cengkeram Pasar

Saham-saham Wall Street jatuh pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, di tengah tekanan kekhawatiran resesi AS dan ekonomi global, karena kepanikan penjualan kembali menimpa pasar-pasar global. Indeks Dow Jones Industrial Average meluncur 733,08 poin atau 7,87 persen menjadi ditutup pada 8.577,91 dalam poin penurunan satu hari terburuk sejak bulan lalu ketika mencatat rekor penurunan 7777 poin dan persentase penurunan paling tajam sejak 1987.

Dalam sebuah peristiwa penurunan yang brutal, indeks Standard & Poor`s jatuh 90,17 poin atau 9,03 persen menjadi 907,84.Indeks saham reknologi komposit Nasdaq berkurang 150,68 poin atau 8,47 persen menjadi 1.628,33 dalam sesi kejam lainnya untuk saham, meski ada upaya penyelamatan besar-besaran untuk sektor perbankan yang "sakit"."Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," kata Al Goldman dari Wachovia Securities.

"Hari ini berkembang kekhawatiran bahwa kemerosotan ekonomi akan beralih menjadi kontraksi yang signifikan karena kebekuan kredit bulan-bulan lalu mulai menunjukkan kenaikan dalam data," kata para analis Charles Schwab dalam catatan pasar terbarunya."Penjualan ritel turun lebih besar dari perkiraan, dan survei manufaktur mencatat penurunan besar. Perusahaan-perusahaan sensitif ekonomi memasuki masa kemunduran."

Pasar-pasar utama dunia kembali berjatuhan, di London indeks FTSE 100 turun 7,16 persen sementara di Paris, indeks CAC 40, merosot 6,82 persen dan di Frankfurt, indeks DAX, turun 6,49 persen.Aksi pasar terjadi di tengah berita bahwa penjualan ritel AS turun 1,2 persen pada September, sebuah sinyal dari masalah mendalam untuk sebuah ekonomi yang sakitakibat pasar finansial yang memburuk dan kredit ketat.

Penurunan penjualan merupakan yang terbesar sejak Agustus 2005 dan lebih lemah daripada ekspektasi pasar turun 0,7 persen."Data penjualan ritel menggarisbawahi pasar yang lebih tertekan kekhawatiran sekarang, yang merupakan arah dari ekonomi," kata Gregory Drahuschak dari Janney Montgomery Scott.

"Situasai pasar kredit masih berubah terus menerus, namun para pedagang dalam banyak kasus melihat di luar ini dan merasa ragu berapa lama pelambatan ini akan berakhir."Carl Weinberg, kepala ekonom High Frequency Economics, mengatakan sekalipun aliran kredit diperbaiki, masalah belum berakhir."Ekonomi dunia masih di ambang resesi meski ada upaya penyelamatan pasar finansial global," kata Weinberg.

Sementara itu di Asia dan Eropa para investor melakukan aksi ambil untung setelah saham-saham di Wall Street berakhir melemah pada Selasa, meski diberitakan Washington akan menyuntikkan hingga 250 miliar dolar AS ke dalam bank-bank yang kesulitan dan membantu mengakhir krisis finansial terburuk sejak 1930.Di antara saham-saham dalam fokus, JPMorgan Chase turun 5,8 persen menjadi 38,49 dolar sekalipun telah mencatat laba lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ketiga. Wells Fargo, yang juga labanya lebih baik dari perkiraan, turun tipis 0,51 persen menjadi 33,35
dolar.

Raksasa chip komputer Intel turun 5,9 persen menjadi 14,99 dolar setelah labanya dilaporkan melampaui proyeksi.Saham utama lainnya, ExxonMobil turun 13,9 persen menjadi 62,35 dolar karena harga minyak mentah terus menurun. Rivalnya, Chevron merosot 12,5 persen menjadi 59,98 dolar.

Sementara obligasi "rally" dengan imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10-tahun berkurang menjadi 4,011 persen dari 4,023 persen pada Selasa dan obligasi negara bertenor 30-tahun turun menjadi 4,248 persen terhadap 4,260 persen. Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. ant/afp/kp.

Kamis, 16 Oktober 2008
By Republika Contributor

AS Suntik Modal Bank, Ekonom Merasa Lega

Amerika Serikat menyuntikkan 250 miliar dollar AS ke sejumlah lembaga keuangan. Upaya ini bertujuan menenangkan episentrum krisis keuangan, yang dimulai dari lembaga keuangan. Menurut IMF, dibutuhkan sekitar 1 triliun dollar AS modal baru untuk perbankan global, yang terjebak kredit macet di sektor perumahan AS.

Uni Eropa, Minggu (12/10), mencanangkan suntikan dan pertolongan ke sektor perbankan senilai 2,2 triliun euro (3,023 triliun dollar AS). Negara-negara di Asia dengan pemerintahan yang lebih kaya sudah terlebih dulu menyuntikkan modal sejumlah bank dan mengikuti langkah Eropa dengan menaikkan simpanan nasabah yang dijamin.

Dana 250 miliar dollar AS itu, menurut Menteri Keuangan AS Henry Paulson, Senin di Washington, bertujuan memperkuat modal sembilan bank. Ini bagian dari dana talangan 700 miliar dollar AS, yang sudah disetujui Kongres AS.

Kantor berita Reuters menyebutkan, bank-bank yang akan mendapat suntikan modal antara lain Bank of America Corp, Wells Fargo, Citigroup, JPMorgan Chase & Co, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Bank of New York Mellon Corp. Sebagian dari bank- bank ini telah menyesakkan nasabah dengan menjual produk investasi yang merobek kantong.

Suntikan modal ini membuat Pemerintah AS menjadi pemilik saham, tetapi tak mempunyai hak suara dalam rapat pemegang saham. Para eksekutif bank dilarang mendapatkan bonus besar.

Pemerintah AS secara temporer menjamin utang-utang dan pinjaman antarbank serta menjamin semua simpanan nasabah. ”Langkah ini akan menaikkan keyakinan publik terhadap sistem keuangan,” kata Paulson.

Sempat rusak

Paul Krugman, ekonom AS yang menerima Hadiah Nobel Ekonomi 2008, mengatakan, ”Saya kini lebih lega ketimbang pekan lalu.” Ia menilai pertolongan terhadap perbankan akan mampu meredakan kepanikan.

Pasar uang juga mulai lepas dari ketegangan. Suku bunga pinjaman antarbank di London (Libor) berjangka tiga bulan turun jadi 4,64 persen dari 4,75 persen. Pasar uang, yang berperan memperlancar transaksi global, mulai keluar dari lingkaran ketakutan. Namun, kerusakan sempat terjadi. Walau tak akan parah, ekonomi AS akan mengalami resesi. ”Krisis keuangan sempat mengganggu kelancaran bisnis dan konsumsi,” kata mantan Gubernur Bank Sentral AS, Paul Volcker.

Di sisi lain, upaya pertolongan pemerintah itu akan mengurangi kas negara. Semua langkah dinilai positif, tetapi hal terpenting adalah reaksi pasar terhadap defisit keuangan pemerintah.

Uni Eropa mengingatkan perlunya mengatur sektor keuangan, di mana para eksekutif memperkaya diri dan membiarkan perusahaan dililit utang. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Rabu, 15 Oktober 2008

Kompas

Pemerintah Jangan Intervensi ke Pasar

Baik pemerintah maupun bank sentral di setiap negara disarankan tidak melakukan intervensi berlebihan ke pasar keuangan yang saat ini sedang menurun. Intervensi tidak diperlukan karena pasar akan melakukan koreksi sendiri.

Hal itu disampaikan ahli keuangan, George Soros, dalam jumpa pers di Media Center Gedung IMF di Washington, Amerika Serikat, Minggu sore waktu setempat atau Senin (13/10) dini hari waktu Jakarta. ”Tren perdagangan di pasar keuangan akan senantiasa menunjukkan siklus naik turun,” tuturnya.

Soros membantah pendapat yang menyatakan hedge fund saat ini sengaja mendorong terjadinya krisis keuangan global, seperti pada 1998. ”Waktu itu, para spekulan hanya memanfaatkan pasar yang sedang menurun,” kata Soros yang 10 tahun lalu dikenal sebagai spekulan pasar uang.

Berbeda dengan Soros, Dana Moneter Internasional (IMF), sebagaimana disampaikan Managing Director IMF Dominique Strauss-Kahn, justru menyarankan agar pemerintah mengambil langkah antisipasi untuk memberi kepercayaan kepada pasar.

Pertumbuhan ekonomi

Isu yang mengemuka dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia tanggal 10-13 Oktober Di Washington DC AS, antara lain, adalah tentang penurunan pertumbuhan ekonomi dunia menyusul adanya krisis keuangan di AS. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan 3,7 persen dan 2009 sekitar 3,8 persen.

Pertumbuhan ekonomi AS tahun ini sekitar 0,5 persen, tahun depan 0,6 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi di negara emerging market diperkirakan tetap kuat di level 7,5 persen (2008) dan 7,8 persen (2009).

Pertumbuhan ekonomi China tahun ini diperkirakan 9,3 persen dan 9,5 persen (2009). Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan 6,1 persen dan tahun depan 6,3 persen.

Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia menekankan pentingnya menjaga hubungan otoritas fiskal (pemerintah) dan otoritas moneter (bank sentral) masing-masing negara. Ini diperlukan agar dapat merespons secara bersama krisis keuangan saat ini.

>w 9536mw 9736m<

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Washington DC, AS)

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

Bursa Efek Berikan Sinyal Positif ;Menkeu: Pemerintah Tidak Panik

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mulai memberikan tanda-tanda membaik. Setelah pekan lalu anjlok cukup dalam, indeks harga saham gabungan pada perdagangan saham, Senin (13/10), akhirnya ditutup menguat.

IHSG ditutup naik 10,20 poin (0,7 persen) menjadi 1.461,87. Sekalipun tidak signifikan, penguatan sebesar 0,7 persen itu cukup melegakan pelaku pasar modal Indonesia karena sebelumnya banyak pihak memperkirakan IHSG masih akan mengalami koreksi tajam.

”Kami memperkirakan IHSG memang masih akan terkoreksi karena adanya penyesuaian dengan penurunan indeks bursa global saat bursa kami tutup, tetapi hari ini ternyata naik. Ini patut kita syukuri,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Pada Rabu lalu perdagangan seluruh saham dan derivatif di BEI dihentikan menyusul anjloknya IHSG hingga 10,38 persen. Penurunan itu dianggap cukup parah karena selama dua hari perdagangan sebelumnya IHSG juga telah terkoreksi 11,79 persen.

Selama BEI ditutup (Rabu- Jumat), Indeks Dow Jones Industrial Average telah terkoreksi lebih dari 10,54 persen. Anjloknya indeks paling berpengaruh di dunia itulah yang diperkirakan akan menekan IHSG pada perdagangan Senin.

Pada perdagangan sesi pertama, kemarin, IHSG memang sempat anjlok sampai 6 persen lebih. Namun, pada sesi kedua, IHSG mulai berbalik arah dan ditutup naik 0,7 persen.

Dari 204 saham yang diperdagangkan, 72 saham tercatat naik, 97 saham turun, dan 35 saham tetap. Jumlah transaksi tercatat sebanyak 73.726 kali dengan volume 11,32 miliar saham, senilai Rp 7,499 triliun.

Sebagian besar saham yang mengalami kenaikan harga adalah saham yang memiliki kapitalisasi besar, seperti saham PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Perusahaan Gas Negara.

Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, penguatan IHSG kemarin lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu menguatnya indeks bursa regional menyusul keluarnya pengumuman dari Bank Sentral Eropa yang menyatakan akan menjamin likuiditas perbankan.

Kemarin, hampir semua indeks bursa regional ditutup menguat. Indeks Straits Times di Singapura naik 6,57 persen, Indeks Hang Seng di Hongkong naik 10,25 persen, dan Indeks Shanghai di China naik 3,65 persen, sedangkan bursa Jepang masih belum dibuka menyusul anjloknya Indeks Nikkei 225 sebesar 9,62 persen, Jumat lalu.

Selain pengaruh membaiknya bursa regional, pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, perdagangan saham di BEI kemarin cukup stabil karena adanya aturan baru auto rejection atau penghentian perdagangan saham otomatis.

Menurut dia, aturan auto rejection yang baru—yang membatasi kenaikan dan penurunan harga saham maksimal 10 persen—membuat pergerakan IHSG menjadi tidak terlalu fluktuatif.

Pemerintah ”all out”

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di depan anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia menegaskan, pemerintah tidak panik dan tidak hanya memerhatikan harga saham. ”Itu pasti! Pemerintah fokus pada sektor yang sangat strategis, yaitu perbankan secara all out. Kinerja dan fungsi perbankan adalah jaminan pemerintah,” ujarnya.

Fokus kedua adalah pemerintah sangat perhatian pada upaya menjaga perekonomian, terutama pelaku ekonomi, baik besar, menengah, maupun kecil di pusat dan daerah, untuk tetap memiliki lingkungan bekerja dan berusaha yang sedapat mungkin diproteksi dari gelombang krisis.

Di Malang, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah sangat mewaspadai perkembangan krisis keuangan di AS dan mengamati perkembangan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Sri Mulyani kemudian meminta pengusaha betul-betul menjaga perekonomian Indonesia dengan menahan diri. Pemerintah dan Bank Indonesia akan memonitor tingkah laku individual pelaku usaha. Dalam situasi sekarang ini, kesalahan setitik saja akan berdampak sangat besar bagi perekonomian bangsa.

Dalam kesempatan itu, Menkeu membuka ruang untuk tetap melakukan ekspansi secara terukur tahun depan. Pemerintah akan tetap fokus pada konsolidasi APBN dan fiskal yang memperkuat neraca keuangan.

”Saya meminta semua pengusaha melihat masing-masing neraca keuangannya. Anda perlu melihat neraca ini untuk mereview. Kalau kemarin-kemarin melakukan ekspansi terlalu berlebihan dan risiko menjadi sangat besar, pengusaha tentu tidak mampu menghadapi dampak yang mengejutkan ini,” ujarnya.

Ekonom Ryan Kiryanto mengatakan, prospek perekonomian ke depan masih tetap kondusif. Alasannya, pertama harga saham di BEI sudah terbilang rendah sehingga ini merupakan momentum untuk membeli. Kedua, permintaan dollar AS makin berkurang. Ketiga, suku bunga acuan atau BI Rate jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga di negara-negara lain, terutama suku bunga Bank Sentral AS.

Keempat, operasi perusahaan terbuka masih berjalan normal sehingga prospek sahamnya masih bagus. Kelima, Indonesia punya sumber daya alam melimpah, seperti pertanian dan pertambangan, yang bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. (ody/REI/OSA/FAJ).

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

Pinjaman Siaga 2 Miliar Dollar AS

Bank Dunia mengindikasikan kesediaannya memberikan pinjaman siaga (standby loan) kepada Indonesia sebesar 2 miliar dollar AS pada 2009. Pinjaman ini baru akan digunakan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di bawah 6 persen.

Hal itu disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta setelah pertemuan bilateral dengan Managing Director Bank Dunia Juan Jose Daboub dan Wakil Presiden Bank Dunia untuk Wilayah Asia Timur dan Pasifik Charles Adam di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu pagi hingga sore waktu setempat atau Minggu (12/10) waktu Jakarta. Paskah didampingi Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto dan Deputi Menneg PPN/Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.

Menurut Paskah, skema pencairan pinjaman siaga dari Bank Dunia hingga kini belum dibicarakan karena pinjaman ini belum tentu digunakan. ”Kalau pertumbuhan ekonomi kita di atas 6 persen tahun 2009, tentu Indonesia tidak akan menggunakan pinjaman siaga itu,” katanya.

Dijelaskan, yang meminta pinjaman siaga kepada Bank Dunia tidak hanya Indonesia, tetapi juga China, yang pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisanya sekitar 1,2 triliun dollar AS.

Paskah dan Rahmat mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak menjajaki lagi pinjaman dengan IMF karena yang diperlukan adalah upaya penguatan anggaran negara. Pinjaman terkait IMF ditujukan untuk memperkuat neraca pembayaran.

Revisi asumsi

Dalam Rancangan APBN 2009, asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditetapkan 6,3 persen. Namun, kata Paskah, dengan adanya krisis keuangan di AS, asumsi pertumbuhan ekonomi akan direvisi dan dibicarakan lagi dengan DPR pada Senin (13/10).

Pemerintah akan mengajukan usulan besarnya asumsi pertumbuhan ekonomi 2009, yaitu 6,1-6,2 persen. Pemerintah juga menyusun skenario terburuk angka pertumbuhan ekonomi 2009 di bawah 6 persen.

Selain memberikan pinjaman siaga, Bank Dunia juga mengupayakan mengoordinasikan penggalangan dana sebesar 3 miliar dollar AS baik dari lembaga keuangan multilateral maupun bilateral untuk membantu Indonesia menghadapi imbas dari krisis pasar keuangan global.

”Bank Pembangunan Islam (IDB) mengindikasikan kesediaannya memberi pinjaman siaga dan membeli sukuk yang diterbitkan Pemerintah Indonesia,” tutur Paskah. Selain itu, tahun 2009, Bank Dunia juga akan meningkatkan pinjaman program dan refinancing yang sedang berjalan dari semula 1,4 miliar dollar AS menjadi 1,9 miliar dollar AS.

Menurut Rahmat, selain menggunakan dana dari lembaga keuangan internasional untuk memperkuat APBN, pemerintah juga mencari pendanaan langsung dari pasar, antara lain dengan menerbitkan surat utang yang berbasis syariah, yang dilakukan antara lain dengan penempatan langsung ke beberapa investor institusi besar di luar negeri, seperti IDB. Penerbitan sukuk ritel, yang semula direncanakan Oktober 2008, diundur awal tahun depan.

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Washington DC, AS)

Senin, 13 Oktober 2008

Kompas

Fondasi Ekonomi Kuat ; Sebaiknya Utamakan Penguatan Perbankan ketimbang Pasar Modal

Meskipun indeks saham terpelanting amat dalam, fundamental ekonomi dinilai masih cukup kuat untuk meredam krisis keuangan global. Kendati begitu, tetap diperlukan berbagai kebijakan untuk menutup potensi risiko yang bisa menjerumuskan negeri ini ke dalam krisis.

Pelaku pasar dan masyarakat sebaiknya tidak panik menghadapi situasi saat ini karena kepanikan hanya akan merugikan semua pihak.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono akhir pekan lalu di Jakarta menjelaskan, fundamental perekonomian secara makro masih cukup baik. Hal itu terlihat dari sejumlah indikator, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, fluktuasi kurs, cadangan devisa, dan neraca perdagangan.

Industri perbankan, yang menjadi gerbang transmisi krisis, juga dalam kondisi fundamental yang bagus, tecermin dari situasi permodalan, kemampuan menyalurkan kredit, dan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).

Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, misalnya, sejak awal tahun hingga kini hanya terdepresiasi 2–3 persen, relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah berdasarkan kurs tengah BI ditutup di level Rp 9.651 per dollar AS.

Neraca perdagangan Indonesia selama Januari–Agustus 2008 masih surplus 8 miliar dollar AS. Dengan konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi yang masih tumbuh, pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diperkirakan tetap bisa mencapai di atas 6 persen. Adapun cadangan devisa sampai akhir September 2008 sebesar 57,11 miliar dollar AS.

Ekonom Faisal Basri menambahkan, daya tahan perekonomian Indonesia cukup kuat karena sektor keuangannya tak terkait erat dengan sektor finansial AS. Selain itu, porsi ekspor Indonesia ke AS, Eropa, dan Jepang sudah menunjukkan penurunan serta mulai bergeser ke negara berkembang dan ASEAN.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan, kondisi perbankan, yang jadi jantung perekonomian, juga memiliki fundamental kuat. NPL neto (setelah dikurangi provisi) hanya 1,42 persen, jauh di bawah batas maksimum, 5 persen.

Permodalan perbankan domestik, mencapai 17 persen, jauh di atas angka minimum 8 persen. Fundamental yang kuat tersebut akan membuat perbankan tetap optimal melakukan fungsi intermediasi untuk mendorong perekonomian.

Antisipasi krisis

Krisis pasar modal yang terjadi saat ini juga tergolong masih jauh dari krisis ekonomi. Kendati demikian, krisis di pasar modal tetap harus diwaspadai kemungkinannya bertransmisi menjadi krisis ekonomi. Jalur transmisi yang bisa memicu terjadinya krisis ekonomi ialah hancurnya sistem perbankan akibat penarikan dana masyarakat dan kebangkrutan sektor riil.

Sektor perbankan bisa menjadi pemicu krisis ekonomi karena sektor ini sangat dominan dalam stabilitas keuangan nasional.

Krisis di sektor perbankan bisa dimulai dengan terjadinya likuiditas yang amat ketat sehingga memicu kenaikan suku bunga dan kredit macet. Krisis perbankan biasanya berpuncak saat timbul ketidakpercayaan nasabah yang memicu terjadinya rush.

Kejatuhan sistem perbankan pada gilirannya akan mengimbas ke sektor riil. Sektor riil sulit mendapatkan kredit, baik untuk refinancing utang, kegiatan operasional, maupun ekspansi. Kinerja korporasi pun akan menurun sehingga berpotensi melakukan pemecatan karyawan. Pengangguran tinggi akhirnya menurunkan daya beli.

Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan lainnya sejauh ini telah mengambil sejumlah kebijakan untuk meredam krisis meluas ke sektor perbankan dan sektor riil.

Pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara mengemukakan, untuk meredam dampak krisis, ke depan, BI seharusnya lebih mementingkan penguatan daya beli untuk mendorong pertumbuhan ketimbang khawatir yang berlebihan terhadap penurunan nilai rupiah, baik inflasi maupun nilai tukar.

Turunkan BI Rate

Ini berarti BI sebaiknya menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate seperti yang dilakukan negara-negara lain. Dengan menurunkan suku bunga, suku bunga kredit juga akan turun. Suku bunga yang murah akan dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengajukan kredit investasi dan masyarakat untuk berkonsumsi. Dampaknya daya beli dan investasi tetap terjaga.

Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan, pemerintah seharusnya fokus mengamankan sektor perbankan ketimbang pasar saham.

Ia juga menyarankan agar nilai tukar rupiah dibiarkan saja tanpa banyak intervensi. ”Pelemahan rupiah masih wajar. Penguatan sistem perbankan otomatis akan meningkatkan kepercayaan pasar kepada rupiah,” katanya.

Selain melakukan langkah-langkah peredaman dampak krisis yang bersifat antisipasi di sektor keuangan, pemerintah juga sebaiknya melakukan langkah proaktif untuk mendorong sektor riil dan perekonomian domestik. Langkah ini penting untuk mengimbangi melemahnya perekonomian global yang akan memicu penurunan ekspor.

Pemerintah perlu segera merespons usulan-usulan Kadin untuk penguatan sektor riil. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud juga mengusulkan sejumlah langkah, antara lain memperketat impor barang jadi dan mencegah barang impor ilegal, memacu pembangunan infrastruktur, dan insentif pajak untuk perusahaan yang berorientasi ekspor seperti tekstil, industri hilir, dan industri padat karya.

Ketua Umum Masyarakat Profesional Madani Ismed Hasan Putro meminta pemerintah jangan terlalu fokus menyelamatkan pasar modal. ”Lebih baik dananya dipakai untuk sektor riil dengan menurunkan harga bahan bakar minyak,” katanya. (FAJ/REI)

Senin, 13 Oktober 2008

Kompas

Tak Akan Menjelma Jadi Krisis

Kejatuhan bursa saham dan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam sepekan ini dinilai kecil kemungkinan menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Demikian kesimpulan diskusi panel Kompas yang menghadirkan pengamat ekonomi Faisal Basri, Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara, serta Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud, Jumat (10/10) di Jakarta.

Para panelis menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Hal senada dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat terpisah. Menurut Kalla, sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wapres.

Faisal Basri mengingatkan, penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS.

Penurunan ekonomi AS dan Eropa juga tak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Tony Prasetiantono menjelaskan, krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial.

Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Mirza Adityaswara menambahkan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus lebih fokus menjaga ketahanan sistem perbankan. Sebab, kehancuran sektor inilah yang sebenarnya dapat memicu krisis ekonomi.

Kondisi perbankan juga sangat menentukan pertumbuhan ekonomi. Investasi swasta dan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi, amat mengandalkan kredit sebagai sumber pembiayaan.

Erwin Aksa Mahmud mengatakan, yang menjadi prioritas saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat tidak turun agar ekonomi tetap tumbuh. Caranya, memberikan insentif kepada sektor riil dan menyetop kenaikan suku bunga.

Batal buka BEI

Jumat kemarin, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

”Kami tidak ingin perusahaan Indonesia yang listed (terdaftar di BEI) menghadapi imbas yang tidak perlu, hanya karena masalah sistemik dari krisis keuangan global. Jadi, yang kami cari adalah waktu yang tepat (untuk membuka kembali bursa),” kata Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.

Penyesatan

Sementara itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui adanya penyesatan informasi atas perdagangan sejumlah saham di BEI. Penyesatan informasi tersebut telah mengakibatkan harga saham sejumlah emiten jatuh di posisi yang cukup rendah.

”Memang ada pihak-pihak yang kami curigai sengaja memberikan informasi yang salah supaya harga saham jatuh, lantas nanti ada yang mau ambil. Saya tak mau bilang siapa karena tidak etis,” kata Ahmad Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, sambil menambahkan, pihak yang menyesatkan informasi di pasar modal itu ada yang berasal dari kalangan investor dan ada dari perusahaan sekuritas atau broker.

Menurut dia, Bapepam-LK akan memeriksa investor dan broker yang diduga telah melanggar peraturan pasar modal itu setelah situasi mereda.(FAJ/REI/HAR/OIN)

Sabtu, 11 Oktober 2008
Kompas

Rp 4 Triliun untuk Beli Saham Program Buy Back Harus Selektif

Pemerintah menyiapkan dana Rp 4 triliun yang selama ini dialokasikan sebagai modal kerja Pusat Investasi Pemerintah atau PIP yang ada di bawah koordinasi Departemen Keuangan untuk membeli saham-saham yang mengalami penurunan harga, tetapi memiliki sifat strategis.

Ini adalah langkah pemerintah untuk mendorong perbaikan kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Kamis (9/10), untuk menjelaskan lima jurus yang disiapkan pemerintah dalam mengantisipasi tekanan krisis keuangan global.

Menurut Sri Mulyani, PIP berwenang mengalokasikan dana yang disediakan APBN pada investasi yang menguntungkan, termasuk kewenangan untuk berinvestasi di pasar modal, antara lain membeli surat-surat berharga, termasuk saham.

”Pemerintah dimungkinkan untuk melakukan pembelian saham. Saat ini ada dana Rp 4 triliun itu, tetapi jumlah dana yang akan digunakan untuk membeli saham masih akan ditetapkan nanti, setelah kami menganalisa nilai saham yang wajar,” paparnya.

Pemerintah bisa membeli saham BUMN yang sudah go public atau membeli saham emiten di luar BUMN. Pada kesempatan itu, BUMN sendiri diberi kewenangan untuk membeli kembali (buy back) saham-sahamnya yang turun harga.

Lima jurus

Dalam paparannya, Sri Mulyani menyebutkan ada lima jurus yang akan dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi krisis. Pertama, perubahan penetapan dasar harga efek di luar harga pasar pada saat harga yang ada di bursa diragukan kewajarannya. Kedua, merelaksasi ketentuan pembelian kembali saham oleh emiten atau perusahaan publik. Ketiga, melakukan operasi penambahan likuiditas melalui dana yang tersedia di APBN. Keempat, pembelian saham oleh PIP. Kelima, melakukan penegakan hukum.

”Langkah penegakan hukum akan didasarkan atas hasil observasi kami terhadap perilaku emiten, bukan hanya di hari Rabu kemarin saat kegiatan BEI disuspensi, tetapi juga observasi sejak tiga bulan lalu. Presiden sudah mengundang Polri, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menindak tegas secara hukum pelaku pelanggaran di Bursa,” ujarnya.

Terkait operasi tambahan likuiditas perbankan nasional melalui dana yang berada di APBN, Sri Mulyani mengatakan, pihaknya mengantungi dana Rp 130 triliun. Namun, anggaran yang sudah siap dicairkan pada Oktober 2008 adalah anggaran belanja kementerian dan lembaga nondepartemen sebesar Rp 25,9 triliun. Maka, realisasi anggaran belanja kementerian dan lembaga nondepartemen Januari-Oktober 2008 akan mencapai Rp 173 triliun, atau 59,7 persen dari total pagu anggaran belanja kementerian Rp 290 triliun.

Terkait kebijakan relaksasi ketentuan pembelian saham, Kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany menegaskan, pihaknya memperbesar jumlah saham yang dapat dibeli kembali dari semula maksimal hanya 10 persen menjadi 20 persen dari modal disetor, atau meningkat dua kali lipat. Bapepam-LK pun menghilangkan pembatasan pembelian saham sebesar 25 persen dari volume perdagangan harian sehingga emiten bisa membeli kembali sahamnya tanpa batas. Kedua ketentuan itu dapat dilakukan mulai 10 Oktober 2008 tanpa perlu ada persetujuan rapat umum pemegang saham.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, mengatakan, program buy back harus dilakukan secara selektif. Jika tidak, maka pihak yang banyak diuntungkan dari program tersebut justru investor asing. (oin/rei)

Jumat, 10 Oktober 2008
Kompas

Produk Bernama CDS Picu Kepanikan

Produk investasi bernama credit default swaps (CDS) menjadi pemicu krisis berkelanjutan sejak kebangkrutan Lehman Brothers pada 15 September lalu. Nilai CDS sudah mencapai lebih dari 60 triliun dollar AS sekarang.

”Kini penting bagi Kongres AS untuk bertindak,” kata Ketua Badan Pengawas Pasar Modal AS (Securities and Exchange Commission/SEC) Christopher Cox, Rabu (8/10) di Washington. Cox mengatakan, pengaturan transaksi CDS saatnya dilakukan.

Warren Buffet, investor kaya di AS, menyebut CDS sebagai ”senjata pemusnah massal sektor keuangan” dan sumbu bom waktu.

CDS adalah surat berharga yang memberikan jaminan bayar kepada seorang pemegang obligasi.

Gary Dorsch dari Global Money Trends Newsletter di situs The Market Oracle (Inggris), edisi 8 Oktober, mencontohkan betapa berbahayanya CDS itu. Ia mencontohkan, ada seorang investor yang memberi obligasi yang diterbitkan Lehman Brothers.

Investor tersebut kemudian menyerahkan dana ke Lehman Brothers, yang kemudian menanamkan kembali dana itu ke perusahaan yang butuh dana. Lehman Brothers dapat komisi. Si investor mendapatkan bunga dari dana yang dia pinjamkan.

Walau Lehman Brothers punya reputasi (sebelum kebangkrutan), investor tersebut kemungkinan tak bisa dibayari Lehman Brothers saat terjadi jatuh tempo pembayaran obligasi.

Untuk merangsang si investor membeli obligasi Lehman, Amerincan International Group (AIG) menerbitkan CDS untuk menopang kredibilitas Lehman. Kenyataannya, hal inilah yang terjadi. AIG akan membayari si investor jika Lehman gagal membayar. Namun, CDS dibayari AIG hanya jika Lehman gagal bayar.

Makin liar

Nilai pasar CDS berkembang dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Saat muncul pada tahun 1995, nilai CDS baru 144 miliar dollar AS. Bom waktu mulai ditanamkan ketika perdagangan CDS berkembang makin liar.

Pada tahun 2000 Kongres AS menghapus perundang-undangan yang mengatur CDS. Pada tahun itu, Christopher Cox (Ketua SEC) adalah anggota Kongres AS.

Banyak ekonom yang mengatakan, bom waktu krisis keuangan dimulai saat penghapusan peraturan soal CDS. Salah satu ekonom yang mengatakan itu adalah Kent Engelke, ekonom dari Capitol Securities Management, Richmond, Virginia, AS.

Sheila C Bair, Ketua Federal Deposit Insurance Corp (penjaminan simpanan nasabah bank di AS), mengatakan, CDS kini menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dari krisis 2008.

Sejak tahun 2005, potensi kebangkrutan korporasi AS makin besar. Saat itu kredit macet di sektor perumahan AS mulai bermunculan. Sejak keadaan ini dicium pasar, produk-produk CDS makin marak diperdagangkan. Investor yang bisa membeli CDS tidak lagi terbatas pada investor yang membeli obligasi asli (misalnya terbitan Lehman).

Transaksi jual-beli CDS juga dilakukan di bawah meja. CDS menjadi produk idaman spekulan. Misi CDS berubah dari pengamanan obligasi gagal bayar menjadi sebuah instrumen peraup untung di tengah gelombang kebangkrutan korporasi. Siapa pun pemegang CDS pasti untung asalkan terjadi kebangkrutan korporasi penerbit surat utang.

Kantor berita Associated Press menuliskan, para hedge fund (manajer investasi) sangat menyukai CDS. Derivatif dari CDS juga bermunculan, termasuk CDS yen versus dollar AS. Juga ada CDS untuk komoditas minyak, pangan, dan lainnya.

Dalam perkembangan terakhir, yen didorong naik untuk dijatuhkan. Ini membuat pemegang CDS yen/dollar AS untung.

Sejak kebangkrutan Lehman Brothers, transaksi CDS semakin marak. Pemegang CDS mengintai potensi besar keuntungan dari rentetan kebangkrutan korporasi yang sudah terjadi.

Michael Greenberger, mantan Direktur Commodity Futures Trading Commission (AS), kini profesor hukum di University of Maryland, mengatakan, ”Maraknya CDS menciptakan suasana pasar kacau. Masalahnya, para spekulan bertaruh akan terjadi kejatuhan indeks, kurs.”

Hal inilah yang membuat penyuntikan dana, penurunan suku bunga oleh Bank Sentral gagal menenangkan pasar.

Kejatuhan itu justru membuat pemegang CDS makin beruntung karena rentetan kegagalan pembayaran korporasi. Anjloknya harga saham membuat perusahaan tak bisa mengharapkan bursa sebagai sumber mendapatkan modal untuk membayar utang.

Pemegang CDS juga diuntungkan dengan mengeringnya pinjaman antarbank. Pinjaman antarbank merupakan sumber tercepat meraih dana untuk melunasi utang jatuh tempo.

Persoalan makin besar karena CDS tidak tertera dalam neraca keuangan perusahaan. Juga tidak jelas siapa penerbit CDS dan pembelinya. ”CDS telah berkembang menjadi ajang manipulasi,” kata Cox.

Para pemegang CDS terus menciptakan suasana yang menjatuhkan indeks, yang mempercepat rentetan kebangkrutan perbankan. Menurut Dorsch, inilah yang menjadi alasan utama di balik kejatuhan beruntun indeks saham AS dan global karena peredaran CDS telah meluas ke berbagai negara. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Jumat, 10 Oktober 2008

Kompas

Usut Tuntas Pelanggaran di Bursa Efek Indonesia

Otoritas pasar modal diminta untuk segera mengusut tuntas segala bentuk pelanggaran yang terjadi dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 22,17 persen hanya dalam waktu tiga hari tidak terlepas dari berbagai pelanggaran yang marak terjadi.

Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI) ND Murdani, Kamis (9/10), mengatakan, koreksi besaran-besaran yang daialami IHSG sejak Senin sampai Rabu lalu tidak lagi hanya dipengaruhi oleh sentimen negatif investor terhadap buruknya kondisi bursa global menyusul krisis finansial di Amerika Serikat. Kejatuhan indeks yang dalam itu juga dipengaruhi oleh berbagai aksi yang jelas-jelas melanggar peraturan pasar modal.

"Indikasinya jelas. Otoritas pasar modal harus mengusut dan membuktikannya," ujar Murdani sambil menambahkan, salah satu indikasi pelanggaran yang paling terasa belakangan ini yaitu penyesatan informasi tentang rencana aksi korporasi sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia. Penyesatan itu mengakibatkan informasi simpang siur sehingga membuat investor semakin panik dan akhirnya menjual saham-saham dengan harga murah.

Penyesatan informasi yang dimaksud Murdani, antara lain, bertolak belakangnya pernyataan antara komisaris dan direksi sebuah perusahaan asing tentang jadi atau tidaknya pelaksanaan penawaran tender saham perusahaan terbuka di Indonesia yang baru saja diambil alih. Penyesatan lainnya juga tentang ketidakjelasan informasi gadai saham sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia dan penundaan-penundaan akuisisi sebuah bank.

Semua informasi yang tidak jelas itu, lanjut Murdani, sangat jauh dari prinsip keterbukaan di pasar modal. Seringkali hal itu menimbulkan kerugian bagi investor kecil karena salah dalam mengambil keputusan menjual atau membeli sebuah saham.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, penyesatan informasi itu jelas telah melanggar Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Dalam pasar 90 UU itu, antara lain disebutkan bahwa setiap pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apa pun serta dilarang membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material.

Menurut Yanuar, penyesatan informasi itu biasanya didahului dengan menghembuskan isu negatif atau positif, tergantung tujuan pihak yang menyebarkan isu, apa akan membeli atau menjual saham.

Setelah rumor dihembuskan, pihak tersebut akan melakukan aksi jual atau membeli saham dalam jumlah tertentu untuk memperkuat isu yang disebarnya. Setelah harga saham jatuh atau meningkat ke tingkat yang diinginkan, saat itulah pihak yang menyebarkan rumor membeli atau menjual saham tersebut secara besar-besaran.

Praktik-praktik seperti ini, lanjut Yanuar, sebenarnya tidak sulit untuk diselidiki. ”Tapi, selama ini otoritas pasar modal kita seperti tutup mata dengan praktik-praktik kotor itu.,” kata Yanuar.

Selain penyesatan informasi, pengamat pasar modal Adler Manurung mengatakan, jenis pelanggaran yang terjadi di bursa Indonesia sangat beragam. Pelanggaran-pelanggaran itu mengakibatkan pasar modal Indonesia menjadi liar, sehingga sulit dibedakan antara spekulasi (judi) dan investasi.

Suspensi BEI Dicabut

Sementara, perdagangan di Bursa Efek Indonesia atau BEI dibuka kembali mulai hari ini, Jumat (10/10). Ini dilakukan karena otoritas bursa memperkirakan kondisi pasar sudah mulai pulih kembali mulai hari itu.

Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/10) terkait dengan lima langkah yang disiapkan pemerintah untuk meredam krisis keuangan global.

Sri Mulyani menegaskan, pembukaan kembali perdagangan BEI tersebut disertai dengan berbagai langkah yang telah disiapkan pemerintah agar integritas bursa, tetap terjaga. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah antara lain menganalisa dan mengobservasi penyebab peristiwa yang terjadi Rabu lalu saat BEI disuspensi.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah menegaskan bahwa kabar yang menyatakan ada 30-40 broker yang merugi dalam beberapa waktu terakhir ini merupakan rumor yang tidak benar. Hingga saat ini, BEI hanya menerima laporan satu broker yang merugi, yakni PT Danatama.

Tiga arahan Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tiga arahan berisi fokus kerja pemerintah menghadapi krisis keuangan di Amerika Serikat yang berdampak luas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari tiga fokus itu, perhatian utama ditujukan untuk melindungi rakyat di akar rumput.

Tiga fokus itu adalah, pertama mengutamakan dan melindungi rakyat di akar rumput agar kebutuhan pokoknya terpenuhi seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lain tidak terganggu. APBN 2008 untuk belanja kementrian dan lembaga sebesar Rp 290 triliun akan dipercepat pengeluarannya di bulan Oktober sebesar Rp 25,9 triliun.

"Likuiditas sangat diperlukan untuk menjamin bergeraknya pembangunan ekonomi di Indonesia. Selama Januari-Oktober 2008, akan dicairkan 60 persen dari APBN," ujar Presiden dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/10).

Kedua, memastikan agar sektor riil, utamanya dunia usaha tetap berjalan meskipun penurunan ekspansi tetap bisa dipahami. Untuk ini, koordinasi telah dilakukan agar dunia usaha tidak kehilangan orientasi. Presiden minta, ketergantungan terhadap faktor luar harus terus dikurangi.

Ketiga, terhadap gonjang-ganjing di pasar modal, saham, dan moneter, Presiden mengakui banyak penyebabnya berada di luar jangkauan pemerintah karena pasar itu tunduk pada hukum-hukum globalisasi. Untuk upaya maksimal mengatasi gonjang-ganjing itu, Presiden memastikan sistem telah dan terus bekerja untuk merespon dan mengantisipasi setiap dampak.(rei/OIN/inu)

Jumat, 10 Oktober 2008

Kompas


Investor Panik, Perdagangan Dihentikan

Jakarta, Kompas - Otoritas Bursa Efek Indonesia akhirnya menghentikan sementara perdagangan (suspensi) seluruh saham dan derivatif, Rabu (8/10) pukul 11.06 WIB. Suspensi dilakukan karena penurunan indeks harga saham gabungan sudah berada di luar batas kewajaran.

Pada perdagangan saham sesi pertama kemarin, IHSG anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen menjadi 1.451,66 poin. Penurunan IHSG sedalam itu dinilai tidak masuk akal karena total nilai transaksi perdagangan saham dan derivatif (turunan saham) sampai menjelang suspensi dilakukan relatif kecil, hanya Rp 952,16 miliar.

”Kalau nilai perdagangan Rp 3 triliun-Rp 4 triliun, penurunan 10 persen mungkin masih bisa diterima akal karena saat ini seluruh bursa global juga terkoreksi. Namun, dengan nilai transaksi di bawah Rp 1 triliun, penurunan itu sangat irasional. Ada sesuatu yang tidak tepat,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Menurut Erry, BEI harus segera melakukan suspensi pada saat perdagangan saham tengah berlangsung untuk menghindari IHSG jatuh lebih dalam lagi. BEI melihat bahwa aksi jual saham secara membabi buta yang dilakukan investor masih akan terus berlanjut jika perdagangan tetap dibuka.

”Hari ini (kemarin) pasar sangat panik. Kami sedang mencermati faktor-faktor lain yang menyebabkan pasar kita turun di luar pengaruh sentimen negatif terhadap pelemahan bursa regional dan global,” kata Erry.

Menanggapi penghentian sementara perdagangan, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan tak bisa dihindari.

Sementara itu, semalam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat terbatas (ratas) yang membahas langkah pemerintah menyusul dihentikannya perdagangan saham di BEI. Dalam ratas itu hadir Wapres Jusuf Kalla, Deputi Gubernur Senior Miranda S Goeltom, Menteri Keuangan ad interim yang dijabat Menneg BUMN Sofyan Djalil, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Ketua Umum Kadin MS Hidayat. Hingga pukul 23.30 ratas masih berlangsung.

Akumulasi 22,17 persen

Anjloknya perdagangan saham membuat akumulasi penurunan IHSG selama tiga hari terakhir mencapai 22,17 persen. Senin lalu, IHSG anjlok 10,03 persen dan Selasa turun lagi 1,76 persen.

Jika dibandingkan dengan level IHSG pada 2 Januari 2008 yang berada di level 2.731,51, posisi IHSG kemarin telah merosot 46,85 persen. Atau jika dengan posisi tertinggi IHSG pada 9 Januari 2008 pada level 2.830,26 telah turun 48,70 persen.

Beberapa saat setelah suspensi, BEI menggelar konferensi pers mendadak. Seusai konferensi pers, BEI juga melakukan pertemuan tertutup dengan petinggi semua perusahaan sekuritas di Indonesia. BEI belum dapat memastikan sampai kapan perdagangan akan dihentikan.

Pengamat pasar modal, Adler Manurung, menilai koreksi mendalam terhadap IHSG kemarin tak hanya dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap pelemahan indeks bursa global menyusul krisis finansial di AS. Koreksi itu juga sangat dipengaruhi transaksi naked short selling yang dilakukan spekulan.

Transaksi naked short selling adalah aksi menjual saham oleh investor yang sama sekali tidak memiliki saham dan jaminan berupa dana di perusahaan sekuritas. Investor melakukan transaksi itu dengan harapan harga saham akan turun untuk kemudian dibeli kembali pada hari yang sama.

Sekalipun dilarang oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Adler memastikan transaksi itu marak terjadi di pasar modal Indonesia karena pelakunya tidak pernah diungkap dan ditindak.

Adapun sejumlah investor menilai kejatuhan bursa kemarin juga sangat dipengaruhi oleh penjualan saham secara paksa (forced sell) terkait dengan transaksi margin para investor. Dalam hal ini, perusahaan sekuritas menjual saham investor yang punya pinjaman pada harga berapa pun.

Komaruddin Muchtar, seorang investor, bercerita, ”Tadi sore saya dihubungi broker dan bilang saham-saham saya akan dijual paksa berapa pun harganya. Ini jelas akan membuat indeks makin terpuruk,” kata Komaruddin.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, memperkirakan, jual paksa ini masih akan terus terjadi saat perdagangan saham akan dibuka kembali. Menurut dia, jual paksa menjadi marak terjadi karena selama ini perusahaan sekuritas berlomba-lomba memberikan pinjaman dana kepada investor untuk membeli saham tanpa jaminan memadai.

”Saat saham jatuh seperti sekarang, broker tidak mau ambil risiko. Saham-saham investor pun diobral. Ini adalah akibat dari pasar kita yang sangat liar, tidak pernah diawasi,” katanya.

Pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, BEI dan Bapepam-LK harus segera menjelaskan kepada publik apa yang terjadi. Menurut dia, anjloknya IHSG lebih dari 20 persen selama tiga hari menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam struktur dan mekanisme investasi di BEI.

Kamis, 9 Oktober 2008
Kompas

Peran China Dinantikan untuk Mengatasi Krisis

Beijing, Rabu - Nuansa kepasrahan tercuat dari pernyataan para pemimpin negara terkaya di dunia. Upaya pengguyuran dana ke pasar oleh sejumlah bank sentral tak mampu meredakan kegelisahan pasar. Kini harapan ada pada China untuk menolong.

Rentetan tindakan penurunan suku bunga oleh beberapa bank sentral, Rabu (8/10), berhasil meredakan kepanikan bursa saham. Namun, ini hanya berlangsung sebentar. Tak lama kemudian, indeks Dow Jones di New York malah anjlok lagi 182,95 poin menjadi 9.264,16 poin. Ini melengkapi kejatuhan sebelumnya di hampir semua bursa dunia dan melahirkan rekor baru, seperti yang terjadi di Jepang.

Kejatuhan bursa dipicu anjloknya indeks saham di New York, Selasa, sekitar 500 poin indeks Dow Jones dan kejatuhan indeks Standard & Poor’s ke bawah 1.000 poin, terburuk sejak tahun 2003. ”Planet keuangan berada dalam sebuah krisis total,” kata anggota Dewan Direksi Bank Sentral Eropa, Guy Quaden.

Pemicu terbaru adalah penyerbuan yang dilakukan para nasabah terhadap bank di Eropa untuk menarik simpanan. Pemicu lain adalah keengganan sesama bank saling meminjamkan, yang memacetkan aliran dana perbankan, urat nadi perekonomian global. Hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu mengingatkan, krisis perbankan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyebabkan resesi. Penurunan pertumbuhan setidaknya dua kuartal berturut-turut sudah bisa disebut sebagai resesi.

Ironisnya, kejatuhan ini terjadi setelah paket dana talangan 700 miliar dollar AS sudah ditandatangani Presiden AS George Walker Bush. Kejatuhan juga terjadi setelah Bank Sentral AS menjanjikan akan membeli surat berharga berjangka pendek senilai 900 miliar dollar AS dari pasar. Beberapa negara di Eropa juga menaikkan jumlah simpanan nasabah yang dijamin pemerintah. Namun, semua ini tak mencegah kepanikan di bursa global. ”Pasar tak bergerak. Penyuntikan dana bank sentral ke pasar sama artinya dengan transfusi darah ke tubuh manusia yang urat nadinya tersumbat,” kata Hiroichi Nishi, pialang di Nikko Cordial, Tokyo, Rabu.

Dari Hongkong ke Paris, Singapura ke Frankfurt, investor mencampakkan saham. Investor khawatir otoritas tak lagi berdaya menghentikan krisis terbesar global sejak Depresi Besar 1929 di AS. ”Pasar seperti kerasukan dan penjualan massal terjadi secara global,” kata Matt Buckland, pialang dari CMC Markets, London.

Presiden Bush mengatakan, kekacauan ekonomi menyebabkan kesulitan hidup bagi warga AS. ”Saya ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini. Namun, krisis belum bisa dihentikan,” kata Bush.

Sadar akan hal itu, Presiden Bush mengatakan telah menghubungi sejumlah pemimpin di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Italia. Tujuannya, untuk mencari strategi mengatasi krisis. ”Saya berbicara langsung dengan mereka pagi ini untuk mengupayakan tindakan yang terkoordinasi. Kami ingin agar tindakan dilakukan secara efektif,” kata Bush, Selasa.

Gedung Putih mengatakan, Presiden Bush akan terbuka pada ide-ide untuk mengatasi krisis. Ini adalah sebuah perubahan sikap drastis mengingat sebelumnya Presiden Bush selalu abai atas keinginan pemimpin G-8 untuk mengatur sektor keuangan yang sudah berjalan liar.

Michel Camdessus, mantan Direktur Pelaksana IMF, mengatakan, ”Akar krisis adalah minimnya peraturan yang mengontrol sektor keuangan AS.”

Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke, pada hari yang sama di hadapan Asosiasi Nasional Ekonomi Bisnis (National Association for Business Economics) di Washington mengingatkan, krisis keuangan tidak saja memburuk, tetapi juga memperpanjang penderitaan. ”Prospek perekonomian kian buruk,” katanya.

Tak mempan

Perdana Menteri Jepang Taro Aso juga memperlihatkan kepasrahan. ”Para pemimpin Uni Eropa sudah bertemu, tetapi tetap tak bisa meredakan gejolak. Pasar Eropa malah bergolak cepat dan substansial. Saya khawatir akan dampak dari krisis ini terasa di Jepang,” kata PM Aso merujuk pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa, Sabtu lalu.

PM Aso mengatakan, harapan terbaru yang bisa dia sandarkan adalah pertemuan G-7 (AS, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Kanada). Namun, PM Aso mengatakan, jika pertemuan G-7 tak mampu meredakan pasar, keadaan malah bisa lebih buruk.

Kini harapan ada pada China. Presiden Bush sudah berbicara langsung dengan Presiden Hu Jintao soal upaya penyelamatan krisis ekonomi.

PM China Wen Jiabao berjanji, negaranya mau mengulurkan tangan untuk mengatasi krisis keuangan AS. Tidak disebutkan uluran tangan yang dimaksud. Namun, beredar informasi yang belum dikonfirmasikan bahwa China akan menggunakan sebagian cadangan devisanya (1,81 triliun dollar AS) untuk membeli surat utang korporasi AS, yang terjebak kemacetan di sektor properti AS.

Keengganan China memegang surat-surat berharga AS dalam setahun terakhir turut mempercepat kejatuhan sektor keuangan AS. Namun, kantor berita Reuters mengatakan, kesediaan China menolong pasti didasari pada tindakan quid pro quo (memberikan sesuatu untuk menerima sesuatu).

”Beijing akan meminta AS membuka pasar lebih besar, termasuk bagi penjualan produk China dan juga pembelian perusahaan AS oleh perusahaan China. China juga akan menuntut peran lebih besar di IMF,” kata Mei Xinyu, peneliti senior dari Departemen Perdagangan China, Rabu.

Kamis, 9 Oktober 2008
Kompas

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management