`
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Internasional. Tampilkan semua postingan

Wall Street Panik, Kekhawatiran Resesi Cengkeram Pasar

Saham-saham Wall Street jatuh pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, di tengah tekanan kekhawatiran resesi AS dan ekonomi global, karena kepanikan penjualan kembali menimpa pasar-pasar global. Indeks Dow Jones Industrial Average meluncur 733,08 poin atau 7,87 persen menjadi ditutup pada 8.577,91 dalam poin penurunan satu hari terburuk sejak bulan lalu ketika mencatat rekor penurunan 7777 poin dan persentase penurunan paling tajam sejak 1987.

Dalam sebuah peristiwa penurunan yang brutal, indeks Standard & Poor`s jatuh 90,17 poin atau 9,03 persen menjadi 907,84.Indeks saham reknologi komposit Nasdaq berkurang 150,68 poin atau 8,47 persen menjadi 1.628,33 dalam sesi kejam lainnya untuk saham, meski ada upaya penyelamatan besar-besaran untuk sektor perbankan yang "sakit"."Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," kata Al Goldman dari Wachovia Securities.

"Hari ini berkembang kekhawatiran bahwa kemerosotan ekonomi akan beralih menjadi kontraksi yang signifikan karena kebekuan kredit bulan-bulan lalu mulai menunjukkan kenaikan dalam data," kata para analis Charles Schwab dalam catatan pasar terbarunya."Penjualan ritel turun lebih besar dari perkiraan, dan survei manufaktur mencatat penurunan besar. Perusahaan-perusahaan sensitif ekonomi memasuki masa kemunduran."

Pasar-pasar utama dunia kembali berjatuhan, di London indeks FTSE 100 turun 7,16 persen sementara di Paris, indeks CAC 40, merosot 6,82 persen dan di Frankfurt, indeks DAX, turun 6,49 persen.Aksi pasar terjadi di tengah berita bahwa penjualan ritel AS turun 1,2 persen pada September, sebuah sinyal dari masalah mendalam untuk sebuah ekonomi yang sakitakibat pasar finansial yang memburuk dan kredit ketat.

Penurunan penjualan merupakan yang terbesar sejak Agustus 2005 dan lebih lemah daripada ekspektasi pasar turun 0,7 persen."Data penjualan ritel menggarisbawahi pasar yang lebih tertekan kekhawatiran sekarang, yang merupakan arah dari ekonomi," kata Gregory Drahuschak dari Janney Montgomery Scott.

"Situasai pasar kredit masih berubah terus menerus, namun para pedagang dalam banyak kasus melihat di luar ini dan merasa ragu berapa lama pelambatan ini akan berakhir."Carl Weinberg, kepala ekonom High Frequency Economics, mengatakan sekalipun aliran kredit diperbaiki, masalah belum berakhir."Ekonomi dunia masih di ambang resesi meski ada upaya penyelamatan pasar finansial global," kata Weinberg.

Sementara itu di Asia dan Eropa para investor melakukan aksi ambil untung setelah saham-saham di Wall Street berakhir melemah pada Selasa, meski diberitakan Washington akan menyuntikkan hingga 250 miliar dolar AS ke dalam bank-bank yang kesulitan dan membantu mengakhir krisis finansial terburuk sejak 1930.Di antara saham-saham dalam fokus, JPMorgan Chase turun 5,8 persen menjadi 38,49 dolar sekalipun telah mencatat laba lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ketiga. Wells Fargo, yang juga labanya lebih baik dari perkiraan, turun tipis 0,51 persen menjadi 33,35
dolar.

Raksasa chip komputer Intel turun 5,9 persen menjadi 14,99 dolar setelah labanya dilaporkan melampaui proyeksi.Saham utama lainnya, ExxonMobil turun 13,9 persen menjadi 62,35 dolar karena harga minyak mentah terus menurun. Rivalnya, Chevron merosot 12,5 persen menjadi 59,98 dolar.

Sementara obligasi "rally" dengan imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10-tahun berkurang menjadi 4,011 persen dari 4,023 persen pada Selasa dan obligasi negara bertenor 30-tahun turun menjadi 4,248 persen terhadap 4,260 persen. Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. ant/afp/kp.

Kamis, 16 Oktober 2008
By Republika Contributor

Perilaku Eksekutif Korporasi Dicecar; Sistem Bonus Picu Kebangkrutan dan Krisis Global

Para eksekutif korporasi keuangan global kini menjadi sasaran kritik. Ke depan, sejumlah negara mencanangkan pembenahan gaji, bonus, bahkan perilaku para eksekutif.

Hal itu sudah ditegaskan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson, Selasa (14/10) di Washington. Isu serupa dibahas gencar di Uni Eropa, Australia, dan sejumlah negara lain. Krisis keuangan global yang terjadi sekarang dinilai berawal dari kecerobohan para eksekutif menjalankan bisnis.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, Rabu (15/10) di New York, menegaskan agar perilaku eksekutif diatur. Hal ini mengemuka karena perilaku buruk para eksekutif telah memaksa pemerintahan sejumlah negara memberikan dana talangan kepada korporasi yang bertumbangan di tangan para eksekutif tersebut.

Para eksekutif seperti berlomba-lomba memperkaya diri dengan membagikan bonus di antara sesama eksekutif. Hal itu berlangsung di tengah bolongnya keuangan perusahaan karena terjebak bisnis berisiko dalam jumlah triliun dollar AS.

Risiko ini, antara lain, terlihat dari maraknya penerbitan obligasi oleh korporasi untuk dikucurkan sektor bisnis berisiko, seperti sektor perumahan AS. Makin tinggi omzet penjualan obligasi, makin tinggi bonus.

Kapitalisme ekstrem

Perilaku eksekutif seperti itu telah mengemuka dan memunculkan amarah para pemimpin. Di Canberra, Australia, Rabu, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd menuduh Wall Street gagal total dalam hal corporate governance (pengelolaan korporasi). Wall Street adalah juga julukan bagi korporasi AS, kaliber internasional, yang menjadi episentrum krisis keuangan global.

Rudd menuding sistem kapitalisme ekstrem di balik krisis keuangan global, yang menggoyang dunia dan melahirkan kepanikan luar biasa pasar uang.

Kini, muncul fenomena di mana para investor tidak percaya lagi kepada penasihat investasi mereka. Juga terjadi sikap saling tidak percaya di antara sesama eksekutif perusahaan.

Rudd mengatakan, kegagalan sektor keuangan terjadi karena standar yang aman dalam pengucuran pinjaman tidak diindahkan, manajemen risiko tidak diperhatikan. ”Faktanya, sistem pengelolaan perusahaan menopang keserakahan, tetapi mengabaikan integritas sistem keuangan. Kegagalan ini tidak saja terjadi pada perusahaan kecil, tetapi pada Wall Street, pilar sistem keuangan global,” katanya.

Sistem bonus dan malus

Dari Frankfurt, Jerman, muncul berita bahwa sistem penggajian para eksekutif telah menjadi salah satu pemicu krisis keuangan global. ”Para bos di industri keuangan seharusnya dihukum dengan pengurangan gaji jika mereka menyebabkan kehancuran perusahaan karena menjalankan bisnis yang diwarnai dengan risiko berlebihan,” demikian proposal yang diajukan Center for Financial Studies (CFS), yang memaparkan hasil studi di markas mereka di Frankfurt.

CFS didukung 120 lembaga global, seperti bank, perusahaan asuransi, sektor industri, dan lembaga pemerintahan. Presiden CFS Otmar Issing adalah mantan ekonom senior di Bank Sentral Eropa.

CFS menyimpulkan, sistem pemberian bonus yang berlaku selama ini membuat para eksekutif malah dirangsang menjalankan bisnis berisiko tinggi. Namun, di sisi lain, jika keputusan mereka soal bisnis telah menyebabkan munculnya risiko, demikian CFS, para eksekutif itu tidak mendapatkan hukuman.

”Adalah penting untuk mengubah sistem bonus dengan menghidupkan sistem bonus/malus. Hal ini akan bisa merangsang eksekutif menghindari bisnis berisiko tinggi,” demikian isi proposal CFS yang disiapkan Guenter Franke dan Jan Pieter Krahnen dalam tulisan berjudul ”Sekuritisasi Masa Depan”.

Sistem bonus/malus merujuk pada kelayakan pemberian bonus jika kinerja keuangan perusahaan baik dan pemberian hukuman (berupa pengurangan gaji) jika para eksekutif berbuat salah. Malus berarti buruh, bonus berarti baik dalam bahasa Latin.

Dengan sistem sekarang yang tanpa hukuman, para eksekutif akan mendapatkan bonus jika berhasil menjual produk investasi kepada nasabah, investor perseorangan, dan kelembagaan, seperti dana pensiun. Lepas dari buruknya kualitas produk investasi yang mereka tawarkan, para eksekutif akan mendapatkan bonus yang makin besar jika penjualan produk investasi itu meningkat.

Reformasi IMF

Krahnen mengatakan, kini bonus sebaiknya hanya bisa diberikan jika kinerja keuangan perusahaan relatif baik. ”Kami kira ke depan penting untuk memperlihatkan kepada para investor soal keberadaan insentif dan disinsentif. Ini perlu untuk menjaga perilaku para eksekutif. Hingga sekarang, perhatian ke arah itu tidak ada,” kata Krahnen, yang juga profesor keuangan dari Universitas Frankfurt.

Di Brussels, Belgia, Rabu, PM Inggris Gordon Brown juga menegaskan agar Dana Moneter Internasional (IMF) ditata ulang. Ini penting agar IMF makin berperan kuat dalam penataan sektor keuangan global. ”Ini penting agar ke depan krisis serupa tidak lagi terulang. IMF harus diubah sehingga keberadaannya pas dengan kondisi terkini dunia modern,” kata Brown setelah bertemu dengan Presiden Uni Eropa Jose Manuel Barroso.

Brown mengatakan, posisi dan keberadaan IMF tak lagi memadai dengan persoalan sekarang. Ia juga menyerukan pentingnya penyusunan sebuah sistem, yang bisa memberikan sinyal akan munculnya bahaya dalam perekonomian global. (REUTERS/AP/AFP/MON).

Kamis, 16 Oktober 2008

Kompas

Tujuh Negara "Tumbang" Diperkirakan Makin Banyak Negara Meminta Pertolongan IMF

Setidaknya tujuh negara berkembang berpaling ke Dana Moneter Internasional (IMF) untuk meminta pertolongan. Negara- negara itu kekurangan dana karena penarikan dana oleh para investor asing seiring dengan terjadinya krisis global.

Permintaan pertolongan itu antara lain telah disampaikan Hongaria, Ukraina, Serbia, dan Eslandia pada pertemuan dengan IMF akhir pekan lalu di Washington. Saat itu berlangsung pertemuan tahunan yang diselenggarakan Bank Dunia dan IMF untuk membahas pemberantasan kemiskinan global.

Krisis sektor keuangan global sekarang ini dipicu kebangkrutan korporasi keuangan global, yang membuat para investor global panik dan menarik dana-dana investasi dan simpanan dari perbankan.

Pada tahun 1997, krisis dipicu dengan masalah di sisi negara pembayaran negara, antara lain ditandai dengan pinjaman-pinjaman internasional berjangka pendek, tetapi ditanamkan pada proyek yang baru menghasilkan dalam jangka panjang.

”Kami mendapatkan permintaan pertolongan dari enam atau tujuh negara,” kata seorang pejabat senior IMF kepada kantor berita Reuters, Selasa (14/10).

Pekan lalu Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn menegaskan, ”Siap membantu negara-negara berkembang yang terpukul krisis.”

”Saya tidak akan kaget jika muncul puluhan negara lagi yang akan mengajukan permintaan tolong dalam beberapa bulan mendatang,” kata pejabat senior IMF yang minta namanya dirahasiakan.

Walau akar krisis sekarang ini berbeda dari krisis 1997, masalah yang dimunculkan relatif sama. Sejumlah negara terancam memenuhi kewajiban luar negeri seperti impor, membayari bunga dan cicilan utang luar negeri.

Makin ketatnya persyaratan untuk mendapatkan kredit dari sektor swasta, dan ketakutan industri perbankan menyalurkan kredit, telah membuat dana-dana di pasar berkurang. Krisis sekarang ini juga telah membuat investor swasta enggan membeli surat-surat utang.

Kembali berperan

Krisis sekarang ini mengembalikan IMF ke dalam bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara berkembang memalingkan muka dari IMF seiring dengan buruknya resep dan reputasi IMF. Di sisi lain, berkembangnya perekonomian dan bangkitnya kemampuan keuangan pemodal-pemodal swasta membuat banyak negara menyandar diri pada pasokan dana investor swasta.

Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan modal-modal swasta membuat sejumlah negara ramai-ramai mengembalikan utang kepada IMF.

Namun, keadaan mendadak berubah sejak krisis meledak, yang dimulai di AS. ”Sistem keuangan global berada di ambang kejatuhan. Hal itu kembali menghidupkan paket bantuan darurat, seperti yang pernah terjadi pada 1995,” kata Strauss-Kahn.

Kawasan Eropa Timur tergolong paling rentan. Selama ini beberapa negara kawasan ini menyandarkan pembiayaan ekonomi dari pinjaman asing, yang kini mendadak mengering. (REUTERS/AP/AFP/MON).

Kamis, 16 Oktober 2008

Kompas

AS Suntik Modal Bank, Ekonom Merasa Lega

Amerika Serikat menyuntikkan 250 miliar dollar AS ke sejumlah lembaga keuangan. Upaya ini bertujuan menenangkan episentrum krisis keuangan, yang dimulai dari lembaga keuangan. Menurut IMF, dibutuhkan sekitar 1 triliun dollar AS modal baru untuk perbankan global, yang terjebak kredit macet di sektor perumahan AS.

Uni Eropa, Minggu (12/10), mencanangkan suntikan dan pertolongan ke sektor perbankan senilai 2,2 triliun euro (3,023 triliun dollar AS). Negara-negara di Asia dengan pemerintahan yang lebih kaya sudah terlebih dulu menyuntikkan modal sejumlah bank dan mengikuti langkah Eropa dengan menaikkan simpanan nasabah yang dijamin.

Dana 250 miliar dollar AS itu, menurut Menteri Keuangan AS Henry Paulson, Senin di Washington, bertujuan memperkuat modal sembilan bank. Ini bagian dari dana talangan 700 miliar dollar AS, yang sudah disetujui Kongres AS.

Kantor berita Reuters menyebutkan, bank-bank yang akan mendapat suntikan modal antara lain Bank of America Corp, Wells Fargo, Citigroup, JPMorgan Chase & Co, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Bank of New York Mellon Corp. Sebagian dari bank- bank ini telah menyesakkan nasabah dengan menjual produk investasi yang merobek kantong.

Suntikan modal ini membuat Pemerintah AS menjadi pemilik saham, tetapi tak mempunyai hak suara dalam rapat pemegang saham. Para eksekutif bank dilarang mendapatkan bonus besar.

Pemerintah AS secara temporer menjamin utang-utang dan pinjaman antarbank serta menjamin semua simpanan nasabah. ”Langkah ini akan menaikkan keyakinan publik terhadap sistem keuangan,” kata Paulson.

Sempat rusak

Paul Krugman, ekonom AS yang menerima Hadiah Nobel Ekonomi 2008, mengatakan, ”Saya kini lebih lega ketimbang pekan lalu.” Ia menilai pertolongan terhadap perbankan akan mampu meredakan kepanikan.

Pasar uang juga mulai lepas dari ketegangan. Suku bunga pinjaman antarbank di London (Libor) berjangka tiga bulan turun jadi 4,64 persen dari 4,75 persen. Pasar uang, yang berperan memperlancar transaksi global, mulai keluar dari lingkaran ketakutan. Namun, kerusakan sempat terjadi. Walau tak akan parah, ekonomi AS akan mengalami resesi. ”Krisis keuangan sempat mengganggu kelancaran bisnis dan konsumsi,” kata mantan Gubernur Bank Sentral AS, Paul Volcker.

Di sisi lain, upaya pertolongan pemerintah itu akan mengurangi kas negara. Semua langkah dinilai positif, tetapi hal terpenting adalah reaksi pasar terhadap defisit keuangan pemerintah.

Uni Eropa mengingatkan perlunya mengatur sektor keuangan, di mana para eksekutif memperkaya diri dan membiarkan perusahaan dililit utang. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Rabu, 15 Oktober 2008

Kompas

Pinjaman Siaga 2 Miliar Dollar AS

Bank Dunia mengindikasikan kesediaannya memberikan pinjaman siaga (standby loan) kepada Indonesia sebesar 2 miliar dollar AS pada 2009. Pinjaman ini baru akan digunakan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di bawah 6 persen.

Hal itu disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta setelah pertemuan bilateral dengan Managing Director Bank Dunia Juan Jose Daboub dan Wakil Presiden Bank Dunia untuk Wilayah Asia Timur dan Pasifik Charles Adam di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu pagi hingga sore waktu setempat atau Minggu (12/10) waktu Jakarta. Paskah didampingi Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto dan Deputi Menneg PPN/Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.

Menurut Paskah, skema pencairan pinjaman siaga dari Bank Dunia hingga kini belum dibicarakan karena pinjaman ini belum tentu digunakan. ”Kalau pertumbuhan ekonomi kita di atas 6 persen tahun 2009, tentu Indonesia tidak akan menggunakan pinjaman siaga itu,” katanya.

Dijelaskan, yang meminta pinjaman siaga kepada Bank Dunia tidak hanya Indonesia, tetapi juga China, yang pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisanya sekitar 1,2 triliun dollar AS.

Paskah dan Rahmat mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak menjajaki lagi pinjaman dengan IMF karena yang diperlukan adalah upaya penguatan anggaran negara. Pinjaman terkait IMF ditujukan untuk memperkuat neraca pembayaran.

Revisi asumsi

Dalam Rancangan APBN 2009, asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditetapkan 6,3 persen. Namun, kata Paskah, dengan adanya krisis keuangan di AS, asumsi pertumbuhan ekonomi akan direvisi dan dibicarakan lagi dengan DPR pada Senin (13/10).

Pemerintah akan mengajukan usulan besarnya asumsi pertumbuhan ekonomi 2009, yaitu 6,1-6,2 persen. Pemerintah juga menyusun skenario terburuk angka pertumbuhan ekonomi 2009 di bawah 6 persen.

Selain memberikan pinjaman siaga, Bank Dunia juga mengupayakan mengoordinasikan penggalangan dana sebesar 3 miliar dollar AS baik dari lembaga keuangan multilateral maupun bilateral untuk membantu Indonesia menghadapi imbas dari krisis pasar keuangan global.

”Bank Pembangunan Islam (IDB) mengindikasikan kesediaannya memberi pinjaman siaga dan membeli sukuk yang diterbitkan Pemerintah Indonesia,” tutur Paskah. Selain itu, tahun 2009, Bank Dunia juga akan meningkatkan pinjaman program dan refinancing yang sedang berjalan dari semula 1,4 miliar dollar AS menjadi 1,9 miliar dollar AS.

Menurut Rahmat, selain menggunakan dana dari lembaga keuangan internasional untuk memperkuat APBN, pemerintah juga mencari pendanaan langsung dari pasar, antara lain dengan menerbitkan surat utang yang berbasis syariah, yang dilakukan antara lain dengan penempatan langsung ke beberapa investor institusi besar di luar negeri, seperti IDB. Penerbitan sukuk ritel, yang semula direncanakan Oktober 2008, diundur awal tahun depan.

(Tjahja Gunawan Diredja, dari Washington DC, AS)

Senin, 13 Oktober 2008

Kompas

Eropa Siapkan Langkah Rinci

Perancis yang kini menjadi Presiden Uni Eropa hari Minggu (12/10) mengadakan pertemuan tingkat tinggi para pemimpin Eropa di Paris guna menghasilkan langkah rinci meredam pasar keuangan yang panik. Pasar keuangan terus dilanda prahara kejatuhan harga saham, dan Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan sistem keuangan dunia mendekati ajal.

Langkah rinci yang akan diambil Eropa dipersiapkan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel, yang terus mengadakan pertemuan di Paris, ”mempersiapkan sejumlah keputusan tertentu guna diajukan kepada para pemimpin Eropa. Langkah rinci ini berupaya memulihkan aliran pasar kredit yang tersendat menyusul krisis keuangan di AS dan Eropa belakangan ini.

Menteri Ekonomi Perancis Christine Lagarde, sesaat setelah meninggalkan Washington DC, AS, Minggu, menegaskan, pertemuan di Paris itu membahas tidak lagi soal obat, tetapi sudah ”menempatkan daging, otot pada tulang belulang, dan bagaimana membangunnya, melanjutkan dan memutuskan soal segalanya”.

Selain pertemuan dengan Merkel, Sarkozy juga bertemu dengan PM Inggris Gordon Brown pada Minggu petang. Para pemimpin Uni Eropa lainnya akan tiba pada pukul 17.00.

Ada jumpa pers seusai pertemuan. Sarkozy tampil bersama Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, Ketua Eurozone Jean-Claude Juncker, dan Gubernur Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet.

Sejauh ini belum jelas langkah rinci yang ada, tetapi besar kemungkinan berkaitan dengan pemberian dana jaminan kepada perbankan.

Kantor Kepresidenan Sarkozy memastikan akan ada pertemuan darurat kabinet pada hari Senin, dan selanjutnya pidato nasional Sarkozy. Kabinet kemungkinan akan mempelajari rencana jaminan pinjaman antarbank. RUU rencana jaminan pinjaman ini akan diajukan ke parlemen Perancis pekan ini.

Gedung Putih akhir pekan lalu mengimbau semua pihak agar bersabar, tetapi IMF menegaskan waktu sudah sangat mendesak. Seruan ini setelah pertemuan G-7 gagal menyepakati langkah konkret untuk mengakhiri krisis dalam pertemuan hari Jumat di Washington DC.

”Keprihatinan yang dalam pada kemampuan membayar utang dari sejumlah lembaga keuangan di Eropa dan AS telah mendorong sistem keuangan dunia mendekati tepi kehancuran yang sistemik,” ujar pemimpin IMF, Dominique Strauss-Khan.

Dia kemudian mengungkapkan harapannya agar pemerintah mengambil aksi yang lebih nyata dan cukup berpengaruh untuk dapat membujuk bank-bank di Eropa untuk kembali menyalurkan kredit. Kredit yang mampat membuat investor melepaskan saham untuk mendapat likuiditas. (Reuters/AFP/PPG).

Senin, 13 Oktober 2008

Kompas

Ekspor-Impor Terhambat Ketatnya Likuiditas Perbankan

Pelaku usaha mulai merasakan kegiatan ekspor dan impor terhambat oleh kesulitan likuiditas perbankan. Jika berlanjut, kondisi ini akan berdampak menurunkan volume perdagangan. Padahal, di sisi lain, kinerja ekspor juga sudah tertekan oleh melemahnya permintaan pasar global.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno mengungkapkan hal itu di Jakarta, Jumat (10/10). Menurut Benny, kesulitan likuiditas perbankanmembuat perdagangan ekspor- impor seakan harus dilakukan dengan tunai.

”Kalau kami mau mengimpor dengan membuka L/C (letter of credit) biasanya cukup memberi jaminan 10-20 persen, sekarang harus pakai jaminan 100 persen karena bank enggak punya dollar AS. Kalau jaminannya 100 persen, ya sekalian saja langsung transfer bayar tunai,” ujarnya.

Sebaliknya, ketika pelaku usaha akan mengekspor, L/C yang diterima dari pembeli tidak bisa langsung dibayar oleh bank di Indonesia setelah barang diekspor. ”Eksportir harus menunggu bank di sini dibayar oleh bank pembuka L/C,” kata Benny.

Menurut Benny, kesulitan likuiditas perbankan ini mulai dirasakan pelaku ekspor-impor dalam sepekan terakhir.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan, dalam situasi seperti sekarang, perbankan umumnya amat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Perbankan juga melakukan klasifikasi tingkat risiko debitor valas yang mengekspor produknya ke AS atau negara lain yang berpotensi terpengaruh penurunan ekonomi AS.

Dalam dua bulan terakhir, perbankan domestik memang mengalami likuiditas dollar yang ketat. Salah satu faktor penyebabnya ialah krisis keuangan di AS.

Institusi keuangan global yang merugi menarik dana mereka di negara berkembang dan menukarnya ke dollar AS. Bank-bank internasional juga enggan meminjamkan dollarnya ke pihak lain karena khawatir pinjamannya macet. Akibatnya, likuiditas dollar di pasar amat ketat.

Pengamat pasar modal, Mirza Adityaswara, mengatakan, salah satu cara untuk mencegah kian ketatnya likuiditas dollar di dalam negeri ialah menjaga tidak terjadinya kepanikan yang memicu perburuan dollar. Jika panik, akan banyak importir yang memburu dollar meski sebenarnya baru butuh dalam beberapa bulan ke depan.

Tunda pencairan

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud mengatakan, ketatnya likuiditas perbankan juga menyebabkan suku bunga kredit naik. ”Perbankan juga menunda mencairkan pinjaman yang telah disetujui,” ujarnya.

Akibat kondisi ini, pelaku usaha tidak mendapat dana dalam jumlah cukup untuk operasional dan ekspansi. Karena itu, kata Erwin, pelaku usaha saat ini cenderung tidak berekspansi dan menunggu situasi membaik.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah sudah harus segera melaksanakan program pembelian kembali saham-saham BUMN. Program itu akan membantu pemulihan pasar modal karena memberikan sinyal bahwa pemerintah percaya terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.

Menurutnya, jika pemerintah lamban mengeksekusi, yang kemudian timbul adalah sentimen negatif pasar yang menilai pemerintah tidak serius menangani krisis. (DAY/FAJ/REI).

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kompas

Bisnis Stres Krisis Keuangan Mulai Booming

Krisis keuangan telah membuat banyak orang "puasa" minum latte atau makan malam mewah, tapi satu bisnis baru kini langsung "booming"-- justru memanfaatkan frustasi akibat krisis itu.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, bisnis baru di San Diego Amerika Serikat itu bernama Sarah's Smash Shack. Di tempat itu, orang-orang bisa melepas stres dengan cara melemparkan piring dan barang pecah-belah ke tembok sekencang-kencangnya. Sarah's Smash Shack buka 24 jam sehari, tujuh hari sepekan.

Si pemilik usaha, Sarah Lavely, memasang tarif mulai dari 10 dolar untuk setiap pelanggan. Mereka mendapat kesempatan 15 menit untuk melempar piring dan gelas.

Para pelanggan diberi pakaian pelindung lalu masuk ke ruangan dengan musik yang menggelegar (Gun n' Roses) serta reklame neon bertuliskan "Break More Stuff."

Sarah menolak untuk membicarakan masalah yang dialami para kliennya, kecuali menyebut "gara-gara keuangan yang sedang sulit, mungkin mereka mandeg dengan pekerjaannya."

Pialang asuransi, Adam DeWitt, datang bersama istrinya ke Sarah's Smash Shack untuk merayakan ulang tahun.Mereka melampiaskan kemarahan akibat tidak bisa beli rumah setelah bank membekukan kredit.

"Ini adalah cara terbaik untuk menghabiskan 50 dolar. Ini lebih bagus dibanding mengisi bensin mobil, lebih bagus daripada membayar bunga kartu kredit," kata DeWitt, (29).

Bisnis baru Sarah tidak menyediakan minum atau makanan, cuma barang pecah-belah termasuk keramik untuk dipecahkan. Barang-barang itu disusun di rak dan siap untuk dihancurkan di beberapa ruang khusus yang sudah dilengkapi papan tulis untuk "skor".

Salah satu paket favorit adalah "The Smash Shack House Special," yang merupakan tiruan dari tempat makan malam Yunani. Dalam tradisi makam malam Yunani, piring biasa dipecahkan sebagai bagian dari hiburan. Dengan biaya 45 dolar (sekitar Rp430 ribu) , anda boleh menghancurkan 15 piring dalam wakt 15 menit.

Klien juga boleh terlebih dulu menuliskan kata-kata kasar sebelum melempar piring itu. Produk favorit lainnya adalah bingkai (10 dolar mendapat 3). Pelanggan memasang foto orang yang dia benci lalu melempar bingkai itu.

Si pengelola juga menulis berbagai nama bank dan politisi di piring-piring itu. Pelanggan tinggal memilih piring bertuliskan bank dan politisi yang mereka benci.(ant/ah)

Jumat, 10 Oktober 2008
Republika

Produk Bernama CDS Picu Kepanikan

Produk investasi bernama credit default swaps (CDS) menjadi pemicu krisis berkelanjutan sejak kebangkrutan Lehman Brothers pada 15 September lalu. Nilai CDS sudah mencapai lebih dari 60 triliun dollar AS sekarang.

”Kini penting bagi Kongres AS untuk bertindak,” kata Ketua Badan Pengawas Pasar Modal AS (Securities and Exchange Commission/SEC) Christopher Cox, Rabu (8/10) di Washington. Cox mengatakan, pengaturan transaksi CDS saatnya dilakukan.

Warren Buffet, investor kaya di AS, menyebut CDS sebagai ”senjata pemusnah massal sektor keuangan” dan sumbu bom waktu.

CDS adalah surat berharga yang memberikan jaminan bayar kepada seorang pemegang obligasi.

Gary Dorsch dari Global Money Trends Newsletter di situs The Market Oracle (Inggris), edisi 8 Oktober, mencontohkan betapa berbahayanya CDS itu. Ia mencontohkan, ada seorang investor yang memberi obligasi yang diterbitkan Lehman Brothers.

Investor tersebut kemudian menyerahkan dana ke Lehman Brothers, yang kemudian menanamkan kembali dana itu ke perusahaan yang butuh dana. Lehman Brothers dapat komisi. Si investor mendapatkan bunga dari dana yang dia pinjamkan.

Walau Lehman Brothers punya reputasi (sebelum kebangkrutan), investor tersebut kemungkinan tak bisa dibayari Lehman Brothers saat terjadi jatuh tempo pembayaran obligasi.

Untuk merangsang si investor membeli obligasi Lehman, Amerincan International Group (AIG) menerbitkan CDS untuk menopang kredibilitas Lehman. Kenyataannya, hal inilah yang terjadi. AIG akan membayari si investor jika Lehman gagal membayar. Namun, CDS dibayari AIG hanya jika Lehman gagal bayar.

Makin liar

Nilai pasar CDS berkembang dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Saat muncul pada tahun 1995, nilai CDS baru 144 miliar dollar AS. Bom waktu mulai ditanamkan ketika perdagangan CDS berkembang makin liar.

Pada tahun 2000 Kongres AS menghapus perundang-undangan yang mengatur CDS. Pada tahun itu, Christopher Cox (Ketua SEC) adalah anggota Kongres AS.

Banyak ekonom yang mengatakan, bom waktu krisis keuangan dimulai saat penghapusan peraturan soal CDS. Salah satu ekonom yang mengatakan itu adalah Kent Engelke, ekonom dari Capitol Securities Management, Richmond, Virginia, AS.

Sheila C Bair, Ketua Federal Deposit Insurance Corp (penjaminan simpanan nasabah bank di AS), mengatakan, CDS kini menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dari krisis 2008.

Sejak tahun 2005, potensi kebangkrutan korporasi AS makin besar. Saat itu kredit macet di sektor perumahan AS mulai bermunculan. Sejak keadaan ini dicium pasar, produk-produk CDS makin marak diperdagangkan. Investor yang bisa membeli CDS tidak lagi terbatas pada investor yang membeli obligasi asli (misalnya terbitan Lehman).

Transaksi jual-beli CDS juga dilakukan di bawah meja. CDS menjadi produk idaman spekulan. Misi CDS berubah dari pengamanan obligasi gagal bayar menjadi sebuah instrumen peraup untung di tengah gelombang kebangkrutan korporasi. Siapa pun pemegang CDS pasti untung asalkan terjadi kebangkrutan korporasi penerbit surat utang.

Kantor berita Associated Press menuliskan, para hedge fund (manajer investasi) sangat menyukai CDS. Derivatif dari CDS juga bermunculan, termasuk CDS yen versus dollar AS. Juga ada CDS untuk komoditas minyak, pangan, dan lainnya.

Dalam perkembangan terakhir, yen didorong naik untuk dijatuhkan. Ini membuat pemegang CDS yen/dollar AS untung.

Sejak kebangkrutan Lehman Brothers, transaksi CDS semakin marak. Pemegang CDS mengintai potensi besar keuntungan dari rentetan kebangkrutan korporasi yang sudah terjadi.

Michael Greenberger, mantan Direktur Commodity Futures Trading Commission (AS), kini profesor hukum di University of Maryland, mengatakan, ”Maraknya CDS menciptakan suasana pasar kacau. Masalahnya, para spekulan bertaruh akan terjadi kejatuhan indeks, kurs.”

Hal inilah yang membuat penyuntikan dana, penurunan suku bunga oleh Bank Sentral gagal menenangkan pasar.

Kejatuhan itu justru membuat pemegang CDS makin beruntung karena rentetan kegagalan pembayaran korporasi. Anjloknya harga saham membuat perusahaan tak bisa mengharapkan bursa sebagai sumber mendapatkan modal untuk membayar utang.

Pemegang CDS juga diuntungkan dengan mengeringnya pinjaman antarbank. Pinjaman antarbank merupakan sumber tercepat meraih dana untuk melunasi utang jatuh tempo.

Persoalan makin besar karena CDS tidak tertera dalam neraca keuangan perusahaan. Juga tidak jelas siapa penerbit CDS dan pembelinya. ”CDS telah berkembang menjadi ajang manipulasi,” kata Cox.

Para pemegang CDS terus menciptakan suasana yang menjatuhkan indeks, yang mempercepat rentetan kebangkrutan perbankan. Menurut Dorsch, inilah yang menjadi alasan utama di balik kejatuhan beruntun indeks saham AS dan global karena peredaran CDS telah meluas ke berbagai negara. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Jumat, 10 Oktober 2008

Kompas

Kilas Balik Kenaikan Harga Minyak Dunia

Berikut ini adalah sejumlah kejadian penting sejak 1970 yang menjadi pemicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus US$133 kemarin.

Pada 1970, harga resmi minyak mentah Arab Saudi ditetapkan pada US$1,80 per barel. Lalu di 1974, harga melewati US$10 per barel dipicu perang Arab-Israel pada Oktober 1973.

Revolusi Islam di Iran pada 1979 mengakibatkan guncangan harga baru pada minyak sehingga menembus US$20 per barel. Kemudian pada 1980, harga minyak melampaui US$30 per barel dan menyentuh US$39 pada awal 1981 saat puncak perang Iran-Irak.

Pada September - Oktober 1990, Irak menginvasi Kuwait yang mengakibatkan harga minyak naik di atas US$40 per barel. Selanjutnya pada Agustus 2005, harga minyak naik lagi menjadi lebih dari US$70 ketika badai Katrina melanda Teluk Meksiko, menghancurkan sebagian besar instalasi minyak lepas pantai.

Untuk tahun ini, pada 2 Januari harga minyak menembus US$100 di tengah kekhawatiran kerusuhan di Nigeria, stabilitas di Pakistan, dan masalah pasokan di pasar utama AS.

Pada 13 Maret 2008, minyak mnetah light sweet ditutup di atas US$110 per barel untuk pertama kalinya di tengah memanasnya spekulasi pascamelemahnya dolar AS dan meningkatnya permintaan dari China serta India.

Cerahnya prospek ekonomi AS membantu mendorong harga minyak dunia hingga melampaui US$120 per barel pada 6 Mei 2008. Kemarin, 21 Mei, harga minyak melonjak jadi US$133,82 per barel karena cadangan minyak AS turun secara tak terduga di tengah kenaikan permintaan dari China.

Bisnis Indonesia

Kamis, 22/05/2008

Bank Dunia dan StandChart Luncurkan Pembiayaan Mikro bagi Afrika dan Asia

Bank Dunia dan Standard Chartered Bank (SCB) bersinergi untuk meluncurkan skema pembiayaan mikro bagi debitur miskin di Afrika dan Asia.

Standard Chartered, bank komersial yang berbasis di Inggris sebelumnya telah banyak menyalurkan pembiayaan mikro, sehingga inisiatif dengan Bank Dunia akan mendorong pembiayaan yang telah ada.

"Transaksi ini akan membuka pendanaan bagi sektor mikro. Kami percaya pembukaan akses yang lebih luas pada pembiayaan menjadi kunci untuk memangkas kemiskinan dan menjadi katalisator pembangunan sosial dan ekonomi," kata CEO SCB Peter Sands.


Dalam perjanjian pembiayaan dengan SCB itu, Bank Dunia akan menginvestasikan sekitar US$45 juta bagi orang miskin di kawasan Sub Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Pembiayaan mikro merupakan pinjaman dalam nominal yang kecil bagi orang miskin tanpa jaminan untuk pengembangan bisnis kecil, seperti kios makanan atau konveksi.

Pembiayaan mikro mulai mendapat perhatian saat Muhammad Yunus, yang mendirikan Grameen Bank, memperoleh nobel perdamaian pada 2006. Grameen Bank memberikan pinjaman mikro rata-rata sebesar 100 dolar AS kepada orang miskin di Bangladesh.

Media Indonesia
Jumat, 16 Mei 2008

Minyak Naik,AS Ingin Tuntut OPEC


Dewan Perwakilan Rakyat AS menyetujui rancangan undang- undang yang mengizinkan Departemen Hukum AS menuntut OPEC.

Tuduhannya adalah pembatasan produksi minyak dan berkomplot satu sama lain untuk mengatur harga minyak mentah. Meski begitu, pihak Gedung Putih mengancam akan menghambat langkah tersebut. Tuntutan tersebut melibatkan OPEC sebagai produsen minyak termasuk di dalamnya Arab Saudi, Iran, dan Venezuela.

Departemen Hukum AS menuntut OPEC agar meningkatkan produksi minyaknya. OPEC tetap bersikukuh bahwa persediaan minyak sudah mencukupi, sehingga tidak perlu penambahan produksi. Sikap ini membuat Departemen Hukum AS menuduh OPEC berusaha membuat harga minyak tetap tinggi.

Tuntutan tersebut diajukan ke DPR dengan bentuk rancangan undang-undang, kemudian dilakukan voting dengan hasil akhir 324-84. Hasil ini cukup kuat untuk menahan veto pihak presiden jika tetap ditentang. Dengan persetujuan ini, Departemen Hukum harus berusaha keras menyelidiki seberapa besar penipuan yang terjadi di dalam kasus harga BBM dan manipulasi pasar energi.

"RUU ini menyebutkan bahwa harga minyak akan mencerminkan keadaan persediaan dan permintaan. Selain itu, mereka juga akan membuktikan keberadaan spekulan liar dan mungkin aktivitas ilegal," ujar anggota Partai Demokrat Steve Kagen yang mendukung RUU tersebut. Dia mengatakan, warga AS saat ini seolah-olah di bawah rasa kasihan OPEC.

Karena itu, konsumen harus dilindungi lantaran semua telah digantung oleh sikap OPEC yang kukuh dengan keputusannya. Minggu ini, minyak telah berada di kisaran harga USD3,79 per galonnya. Pihak Gedung Putih menyatakan, tindakan ini hanya membawa AS ke arah bahaya. Jika Departemen Hukum AS tetap melemparkan tuntutan kepada OPEC, setiap negara anggota akan berbalik menentang AS.

Hal ini sangat mengkhawatirkan karena bagaimanapun juga AS masih tetap membutuhkan persediaan minyak dari mereka. Jika AS kekurangan minyak, persediaan bensin akan menipis, hal ini bisa memicu kenaikan harga minyak di negara tersebut. Investasi asing di sektor infrastruktur minyak mengalami penurunan tajam dalam 10 tahun terakhir.

Apalagi perusahaan minyak beberapa negara OPEC adalah pemilik dari kilang minyak yang ada di AS. Arlington, ekonom di FBR Capital Market Corp menyatakan akan timbul masalah jika RUU tersebut disahkan menjadi undang-undang. Di lain pihak, Hillary Clinton yang masih berjuang untuk mendapatkan kursi kandidat presiden dari Partai Demokrat menyatakan akan melawan OPEC,jika dia menjadi presiden terpilih.

Dia juga merencanakan akan menghambat langkah negara-negara anggota OPEC di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Presiden AS George W Bush sempat mengancam akan menghentikan tindakan ini.Namun, Partai Demokrat sepertinya akan tetap meloloskan RUU tersebut.

Nancy Pelosi, juru bicara kubu Demokrat dengan geram mengatakan bahwa daripada menggunakan ancaman veto untuk melindungi perusahaan minyak, lebih baik pemerintahan Bush lebih memikirkan bagaimana caranya melindungi konsumen AS. Tindakan ini menunjukkan Pemerintah AS hanya peduli dengan perusahaan- perusahaan dagang non-AS.

Sementara itu, saham AS menurun setelah harga minyak sempat mencapai lebih dari USD129 per barel. Hal ini juga mengakibatkan peningkatan inflasi lebih dari yang diperkirakan. Akibatnya, daya beli konsumen semakin terancam. Konsumen AS saat ini berjuang untuk bertahan di tengah kenaikan harga BBM dan jatuhnya harga di sektor properti.

www.okezone.com
Kamis, 22 Mei 2008

Ekspor Jepang Tumbuh Lebih Cepat


Ekspor Jepang tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan para ekonom pada April lalu. Tingginya pengiriman ke Asia turut memacu pertumbuhan itu.

"Ekspor tumbuh sebesar 4 persen dari tahun sebelumnya, setelah tumbuh 2,3 persen pada Maret," kata Kemeterian Keuangan Jepang di Tokyo dikutip Bloomberg, Kamis (22/5/2008). Sebelumnya, 17 ekonom yang disurvei Bloomberg memprediksi peningkatan sebesar 2,5 persen.

Pengiriman barang ke Amerika Serikat (AS) jatuh selama delapan bulan terakhir ini, dan merupakan yang terburuk sejak 2004. AS selama ini merupakan pasar ekspor terbesar Jepang.

Sementara pertumbuhan di China dan ledakan komoditas di Rusia dan Timur Tengah telah membantu eksportir, termasuk Matsushita Electric Industrial Co dan Komatsu Inc, bertahan dari kemerosotan perekonomian AS.

"Ada dinamika pertumbuhan baru secara global," kata Huw McKay, ekonom senior di Westpac Banking Corp yang berbasis di Sydney, kepada Bloomberg Television. "Pabrik-pabrik Jepang sangat variatif, mereka berada pada posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan."

Yen diperdagangkan menguat pada 102,84 per dolar AS pada pukul 12.24 waktu Tokyo, dari 103,07 sebelum laporan mengenai pertumbuhan ekspor itu disampaikan.

Sebelumnya, ekspor pada Januari naik 7,7% dibandingkan dengan setahun sebelumnya, sementara pada Desember meningkat 6,9%.

www.okezone.com
Kamis, 22 Mei 2008

The Fed: Tak Ada Pemangkasan Suku Bunga Lagi

Bank Sentral Amerika Serikat menyatakan tidak akan kembali memotong suku bunganya. AS harus mengatasi krisis ekonomi yang terjadi tanpa bantuan The Fed.

Pasalnya, The Fed sebelumnya telah berulang kali memotong suku bunga untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Langkah The Fed terakhir adalah pemotongan suku bunga yang diputuskan setelah pertemuan Dewan Gubernur The Fed pada 29-30 April. Suku bunga yang sebelumnya 2,25 persen dipotong menjadi 2 persen.

Anggota The Fed mengatakan bahwa tidak pantas bagi The Fed jika kembali memotong suku bunga, kecuali keadaan ekonomi berubah secara signifikan. Dalam laporan pengamatan ekonominya, The Fed membuat perubahan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS dari kisaran 1,3- 2 persen menjadi 0,3-1,2 persen. Selain itu, laporan tersebut menunjukkan peningkatan tingkat pengangguran menjadi 5,5-5,7 persen tahun ini.

Tingkat inflasi pun meningkat hingga berada di level 3,1- 3,4 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang hanya mencapai 2,1-2,4 persen. Peningkatan disebabkan peningkatan biaya energi. Inflasi inti di luar pangan dan energi hanya naik 0,2 poin ke 2,2- 2,4 persen. Perkiraan baru ini merupakan salah satu kebijakan The Fed untuk memberikan data terbaru tentang keadaan ekonomi AS.

Laporan tersebut merupakan kumpulan dari perkiraan berbagai ekonom yang mengamati pertumbuhan ekonomi AS. Laporan tersebut menyebutkan bahwa keadaan ekonomi dalam semester pertama tahun ini memang akan terus lemah. Peningkatan baru akan terjadi pada semester kedua nanti. Data daya beli konsumen dan data pekerja telah menunjukkan ekonomi yang sangat lemah bagi AS tahun ini.

Pendapatan riil terhambat karena harga minyak yang tinggi, harga rumah jatuh dan kondisi kredit yang semakin parah. Banyak anggota The Fed yang meragukan putusan terakhir yang memotong suku bunga hingga 2 persen akan berhasil merangsang pertumbuhan ekonomi AS. Gubernur The Fed Kevin Warsh mengatakan bahwa pasar keuangan seharusnya tidak mengharapkan adanya pemotongan suku bunga kembali.

Hal itu tidak akan terjadi karena The Fed telah memotong suku bunga besar-besaran dari 5,25 persen pada September tahun lalu hingga ke level 2 persen pada saat ini.

"The Fed telah mengambil risiko yang sangat besar dengan memotong suku bunga dalam sembilan bulan terakhir. Menurunkan suku bunga hingga sebesar 3,25 persen adalah tindakan yang memberikan pengaruh besar terhadap ekonomi," ujar Warsh.

Selanjutnya, dia mengatakan bahwa The Fed tidak akan melakukan pemotongan lagi walaupun banyak imbauan dari berbagai pihak. Warsh menambahkan, The Fed tidak akan bisa memulihkan semua kerusakan dalam sistem perbankan. Saat ini banyak sektor perbankan yang terjerat utang yang sangat berpotensial untuk menghancurkan pertumbuhan ekonomi.

Dia mengharapkan semua pihak untuk berperan di dalam pemulihan ekonomi AS. "Tindakan nyata untuk mengembalikan ekonomi seperti semula lebih diperlukan, dibandingkan memotong suku bunga," ujarnya. Brian Bethune, ekonom di Global Insight, percaya bahwa The Fed tidak benar-benar menutup kemungkinan mengadakan penurunan kembali suku bunganya.

"Namun, The Fed akan menahan tindakannya dalam beberapa bulan ke depan," ujarnya.

Bethune mengatakan, bantuan dari pemerintah yang berjumlah USD168 miliar dan pemotongan pajak yang bertujuan merangsang ekonomi akan dihentikan. Hal ini akan membuat The Fed berpikir ulang untuk kembali memotong suku bunga.

www.okezone.com
Jum'at, 23 Mei 2008

Kuartal I, Ekonomi Singapura Melambat

Perekonomian Singapura tumbuh lebih lambat dibandingkan yang diprediksi pada kuartal pertama tahun ini. Laju inflasi di negeri singa itu pun terus meningkat melampaui rekor tertinggi selama 26 tahun yang terjadi Maret lalu yang mencapai 6,7 persen. Data terakhir dari Departemen Statistik menunjukkan inflasi tahunan mencapai 7,5 persen pada April.

Sementara indeks harga konsumen, sebagai parameter utama inflasi, diperkirakan meningkat mencapai rata-rata 7,1 persen pada April lalu, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyusul kenaikan pada Maret lalu ke angka 6,7 persen.

Produk domestik bruto (PDB) tercatat naik 6,7 persen pada tiga bulan pertama tahun ini, dibandingkan tahun sebelumnya. Namun angka itu masih lebih rendah dari yang diprediksi pemerintah pada 10 April lalu, bahwa angka PDB akan mencapai 7,2 persen. Demikian disampaikan kementerian Perdagangan Singapura, dikutip Bloomberg, Jumat (23/5/2008).

Sementara itu, perekonomian Asia yang bergantung pada ekspor telah terpengaruh kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat. Di Malaysia dan Filipina misalnya, pertumbuhan diprediksi akan melemah pada kuartal pertama ini.

"Dalam kondisi harga minyak dan pangan berada pada level tinggi, tidak banyak yang bisa diharapkan bagi Singapura dan seluruh negara Asia," kata Song Sen-Wun, ekonom pada CIMB-GK Securities Pte yang berbasis di Singapura. "Inflasi merupakan kekhawatiran yang besar dan menjadi prioritas bagi banyak pemerintahan.

www.okezone.com
Jum'at, 23 Mei 2008

Minyak 200 Dollar AS?

Apa yang terjadi terhadap perekonomian Asia, bila harga minyak mentah dunia mencapai 200 dollar AS per barrel pada akhir 2008 ini? Berdasarkan skenario yang dirilis Yiping Huang, analis ekonomi Citi seperti yang diperoleh Kompas.com, Jumat (23/5), Indonesia, bersama-sama Thailand, Malaysia dan Taiwan akan menjadi negara yang sangat terpukul akibat kenaikan tersebut. Sedang perekonomian China dan India akan terlindungi karena adanya subsidi minyak.

Menurut Huang, setiap kenaikan harga minyak 10 dollar AS per barrel, akan membuat perekonomian Asia, melambat sekitar 0,22 persen. Dan dengan naiknya harga minyak mencapai 200 dollar AS sebelum akhir tahun atau rata-rata 147 dollar AS per barrel pada tahun 2008 dibanding tahun lalu yang 72 dollar AS per barrel, akan membuat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Asia turun 1,5 persen. Dengan harga 200 dollar AS per barrel, sebutnya, laju inflasi juga akan meningkat sekitar 3,5 persen.

"Perkiraan kami saat ini, PDB Asia tahun 2008 akan mencapai 7,5 persen turun dibanding 8,7 persen pada tahun lalu. Melonjaknya harga minyak akan membuat risiko penurunan ekonomi semakin besarnya," katanya.

Indonesia sendiri sudah berancang-ancang untuk menaikkan harga BBM, karena tidak kuatnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menanggung subsidi BBM akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia yang mencapai 135 dollar AS per barrel.
Dengan naiknya BBM yang rata-rata 28,7 persen, menurut Bank Indonesia (BI) laju inflasi 2008 akan melampaui 12 persen, melonjak dua kali lipat dibanding dua tahun sebelumnya yang berada dikisaran 6 persen. Yang berarti pula meleset jauh dari target semula yang ditentukan, yakni plus minus 1 persen.

Menurut Ekonom BNI, A Tony Prasentiantono, inflasi tinggi yang berkepanjangan akan membahayakan perekonomian. Awalnya, inflasi atau kenaikan harga akan menurunkan daya beli masyarakat, terutama yang miskin. Berikutnya, investor dan pelaku usaha akan mengerem ekspansinya karena permintaan konsumen turun, keuntungan pun berkurang. Dampak yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi akan anjlok.

Sedangkan pengamat pasar uang Farial Anwar, menyebutkan tingginya inflasi akan mmebuat investor asing dan domestik melepas rupiah, karena inflasi tinggi membuat suku bunga riil aset rupiah menjadi negatif. Sehingga nilai uang yang diinvestasikan akan berkurang. Kejatuhan nilai tukar yang dalam akan membuat perekonomian chaos. Kondisi ini akan bertambah sulit jika perbankan juga menaikkan suku bunga kreditnya.

Kompas
Jumat, 23 Mei 2008

Ekspor Singapura Terdorong Bahan Kimia

Ekspor Singapura meningkat pada April didukung kenaikan pengapalan perusahaan petrokimia ke palanggan di luar negeri yang menutupi penurunan penjualan barang elektronika dan obat.

Ekspor nonminyak domestik naik 5,4% dari setahun sebelumnya menyusul penurunan 5,9% pada Maret, ungkap badan promosi perdagangan pemerintah hari ini. Para ekonom memprediksi kenaikan ekspor 2,3%.

Singapura dan eksportir Asia lainnya mengandalkan lebih banyak pengapalan bahan kimia dan barang lainnya, sementara pelemahan ekonomi AS mengurangi permintaan produk elektronika. Bahan kimia memberikan kontribusi sepersepuluh terhadap produksi Singapura. Ekspor membantu mengatasi fluktuasi pengapalan obat.

"Indikator menunjukkan pelemahan berlanjut di sektor elektronika, jadi kita mungkin baru melihat pemulihan pada kuartak IV," ujar Ng Shing Yi, ekonom pada United Overseas Bank Ltd. di Singapura.

Bisnis Indonesia
Jumat, 16/05/2008

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management