`
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Managemen Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Managemen Diri. Tampilkan semua postingan

Image-Guided Interventions: Technology and Applications


Author: Terry Peters ~ Kevin Cleary
Year: 2008
Publisher: Springer
Size: 10.74 MB
e-ISBN: 978-0-387-73858-1
Type: PDF
Password: boocbo.blogspot.com
Download: Click Here

Energi suara hati


Pada tulisan-tulisan terdahulu saya telah mengetengahkan kisah sukses sebelas pebisnis kelas dunia. Bidang bisnis mereka memang beragam. Namun bila dicermati, kisah-kisah sukses itu memperlihatkan suatu kesamaan: terasahnya kecerdasan spiritual menjadi sumber kekuatan luar biasa penggerak bisnis mereka.

Perlu ditekankan di sini bahwa spiritualitas, sebagaimana diperkenalkan dalam pelatihan Emotional Spiritual Quotion (ESQ), tidak mesti berkaitan langsung dengan agama. Kecerdasan spiritual itu dipandang sebagai potensi yang secara universal dimiliki oleh setiap manusia.

Dalam Model ESQ, yang bersumber dari konsep Satu Ihsan, Enam Rukun Iman dan Lima Rukun Islam (165), potensi kecerdasan spiritual itu diyakini sebagai pantulan sifat-sifat unggul yang terpancar dari Nama-Nama Allah SWT (Asmaul Husna). Potensi itu terpantul melalui ruh yang ditiupkan kepada setiap manusia. Tugas manusialah untuk mengasahnya agar teraktualisasi menjadi energi.

Model ESQ adalah sebuah ikhtiar untuk menguraikan dan mengasah potensi-potensi itu, dengan mengidentifikasi tujuh dari 99 Asmaul Husna. Ketujuh potensi atau suara hati, yang kami sebut Tujuh Budi Utama (Jujur, Tanggung jawab, Visioner, Disiplin, Kerja sama, Adil dan Peduli) itu menjadi pijakan awal untuk mengenali jati diri; betapa manusia sesungguhnya memiliki potensi yang kaya.

Simaklah bagaimana kisah Infosys Technologies yang dibangun Narayana Murthy bersama enam rekannya, dari modal uang tabungan 10.000 rupee (US$250) pada 1981 menjadi imperium bisnis berpendapatan US$3 miliar (2007).

Ini tidak akan terjadi andai pada musim dingin 1990 mereka takluk dalam suramnya iklim bisnis, lalu puas dengan tawaran pembeli sebesar US$1 juta. Murthy berhasil meyakinkan rekan-rekannya bahwa bisnis mereka bernilai lebih dari sekadar uang. Sikap saling percaya dan kerja sama yang mereka bangun dalam satu visi yang sangat kuat adalah bentuk aktualisasi diri dan ajang untuk menghasilkan karya yang tidak hanya untuk dinikmati sendiri, tapi juga oleh sesama. Itu sebabnya, Murthy dan kawan-kawan peduli pada kepentingan 75.000 karyawan, memberi mereka hak membeli saham (stock option).

Kerja keras Lee Byung-chul dalam membesarkan gurita bisnis Samsung Group pun mengajarkan tentang kemenangan suara hati. Lee, yang wafat pada 19 November 1987, tidak semata-mata mewariskan perusahaan raksasa global di bidang elektronik dan semikonduktor, melainkan juga (yang lebih penting) kultur korporat yang tahan terhadap segala cuaca.

Menurut Presiden dan CEO Samsung Electronics, Dr. Hwang Chang-gyu, Lee mewariskan filosofi yang menekankan inovasi sebagai nyawa perusahaan. Ketika satu tujuan tercapai, itu berarti awal menetapkan tujuan baru. Orang-orang Samsung diibaratkannya seperti kaum nomad, yang terus mengembara mencari temuan-temuan baru. Semua itu membutuhkan visi yang kuat, pengabdian (tanggung jawab) atas misi, kedisiplinan, kerapian kerja sama, dan seterusnya.

3 Kebahagiaan

Imperium otomotif legendaris Jepang, Honda, tumbuh dengan filosofi Soichiro Honda, seorang pebisnis yang merangkak dari bawah, melalui badai demi badai kegagalan. Menghormati Individu dan Tiga Kebahagiaan, demikian rumusan filosofi yang diuraikan dalam misi dan visi korporat Honda Motor Company.

Menghormati Individu berarti yakin akan kemampuan unik manusia, dan menentukan hubungan perusahaan dengan rekanan, pelanggan, penyalur, dan masyarakat. Honda meyakini bahwa setiap orang yang terlibat dalam proses pembelian, penjualan atau menciptakan produk harus menerima perasaan bahagia dari pengalaman.

Tiga kebahagiaan yang dimaksud itu adalah, kebahagiaan memproduksi, kebahagiaan menjual dan kebahagiaan membeli. Itu artinya, kebahagiaan yang diharapkan ada pada diri setiap orang Honda bukan semata-mata kebahagiaan mendapatkan sesuatu, tapi juga (dan yang terpenting) kebahagiaan memberikan sesuatu yang terbaik.

Dari situ lahir komitmen dan pengabdian yang tak bisa ditukar atau dikompromikan dengan apa pun. Inilah yang dinamakan komitmen spiritual. Seseorang melakukan suatu pekerjaan tidak semata-mata karena mengharapkan imbalan (komitmen intelektual/material), karena ikatan, hubungan atau dorongan emosi tertentu (komitmen emosional), tapi dia melakukannya demi kebahagiaan mengerjakan sesuatu dan memberikan sesuatu.

Bagi kalangan bisnis, tuntutan akan komitmen semacam itu tidak hanya muncul dari kebutuhan internal. Di Barat, kini bergulir suatu kecenderungan menguatnya kesadaran konsumen. Patricia Aburdene, dalam buku Megatrends 2010: The Rise of Conscious Capitalism, mengutip laporan The New York Times bahwa sampai tahun 2000, pasar untuk values-driven commerce, telah mencapai US$230 miliar.

Angka itu terus tumbuh dua digit setiap tahun. Ceruk pasar yang dirujuk dalam laporan itu adalah masyarakat konsumen dengan kesadaran memilih produsen atau perusahaan yang memerhatikan tanggung jawabnya pada kepentingan stakeholder, termasuk konsumen dan lingkungan.

Majalah Fortune pada Oktober 2006 mencatat, sekitar satu dari setiap 10 dolar aset di bawah manajemen investasi di Amerika Serikat (US$2,3 triliun dari US$24 triliun) diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan yang tinggi tingkat tanggung jawab sosialnya. Ini ditafsirkan sebagai isyarat bahwa perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial akan mengungguli perusahaan yang tidak.

Indikasi itu telah muncul dalam edisi Maret/April 2002 majalah Business Ethics: perusahaan yang masuk daftar 100 Best Corporate Citizens secara keseluruhan memiliki kinerja di atas perusahaan-perusahaan lain dalam daftar S&P 500.

Maka, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa, secara alamiah, mau tidak mau praktik bisnis akan selalu tergiring untuk kembali kepada nilai-nilai dasar universal, kepada suara hati manusia.

Bisnis Indonesia
Jumat, 16/05/2008

Mental buruk membanding-bandingkan

Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit membanding-bandingkan. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya.

Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita. Namun, sikap membanding-bandingkan punya akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitas yang konstruktif.

Pertama, sikap membanding-bandingkan membuat kita seperti 'minum dari air laut'. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri.

Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan. Namun, demi menjaga gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya, dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya, semua itu membawa dirinya menjadi berutang yang cukup banyak.

Kedua, sikap membanding-bandingkan membuat kita berada dalam sebuah herarki yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan supervisor Anda, mungkin si supervisor Anda pun merasa iri dengan manajernya. Lalu si manajer iri dengan direkturnya. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, semua ini tidak pernah ada putusnya.

Ketiga, mentalitas membanding-bandingkan membuat energi emosi kita lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang justru negatif. Misalkan saja, melihat rekan ataupun teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun jadi merasa iri, sebel, cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini membuat kebanyakan orang justru terjebak dalam energi yang negatif, seperti berusaha mencari-cari kekurangan orang tersebut. Bahkan, ada yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas.

Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding-bandingkan yang negatif dan akhirnya justru membenamkan potensi diri kita sendiri?

Standar sendiri

Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. Dalam pelatihan dan seminar, saya tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang terinpsirasi dari kisah hidup banyak orang sukses, "Saya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain. Namun, saya punya standar kesempurnaan yang saya kejar terus-menerus sepanjang saya masih punya napas". Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel.

Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingkan diri dengan mereka, mereka pun membanding-bandingkan dengan Anda. Saya pernah mengalami pengalaman menarik tatkala masih pada awal karier saya sebagai pembicara dan penulis.

Saya sangat mengagumi seorang penulis dan pembicara yang sangat produktif. Suatu ketika, saat ketemu, dia pun ternyata mengatakan dia merasa iri dengan beberapa aspek pencapaian dalam kehidupan saya. Saya pun akhirnya sadar, ini bagian dari permainan kehidupan yang mesti kita sadari.

Kita akan selalu membanding-bandingkan. Kamu hebat di mana, kamu punya apa, dan seterusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak akan berhenti. Karena itulah, satu-satunya cara adalah tidak membanding-bandingkan dan tidak melihat orang lain dengan perasaan iri. Ingatlah, belajar dari kisah saya di atas, mungkin dia sendiri pun sedang melihat Anda saat ini dengan irinya.

Ketiga, setop membanding-bandingkan dan belajar untuk bersyukur dengan apa yang kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara maksimal dan inilah yang mampu kita capai, belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati.

Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka miliki. Sejauh kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan rajin dan gigih mau berjuang, saya percaya kita akhirnya akan menikmati seperti yang orang lain nikmati. Namun, kita tidak boleh merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah punya path (jalannya) sendiri-sendiri.

Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita tak perlu iri apalagi marah dengan 'rumput tetangga yang tampaknya lebih hijau'. Belajar terima kondisi 'rumput' kita saat ini tetapi rajin-rajinlah merawat dan melihat serta mengembangkan kondisi rumput kita. Mungkin suatu ketika, rumput kita pun akhirnya akan sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus.

Keempat, kalaupun ingin membanding-bandingkan, bandingkanlah dengan dirimu sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada kemajuan dan perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual, finansial, karier, emosional, mental (pengetahuan) atau hubungan sosial, bagaimana perkembangannya?

Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda menjalani grafik yang semakin menanjak dalam kehidupan Anda. Di sisi lain, energi yang dipakai juga energi positif.

Akhirnya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah bukan dengan kacamata perasaan iri, marah, ataupun sebel। Namun, dengan kacamata ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mencontoh apa yang mereka lakukan sehingga Anda pun bisa sesukses mereka-mereka ini. Dengan demikian, cara membandingkan Anda disertai dengan sikap dan emosi yang positif.

Bisnis Indonesia
Jumat, 16/05/2008


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management