`
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Bursa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bursa. Tampilkan semua postingan

Wall Street Panik, Kekhawatiran Resesi Cengkeram Pasar

Saham-saham Wall Street jatuh pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, di tengah tekanan kekhawatiran resesi AS dan ekonomi global, karena kepanikan penjualan kembali menimpa pasar-pasar global. Indeks Dow Jones Industrial Average meluncur 733,08 poin atau 7,87 persen menjadi ditutup pada 8.577,91 dalam poin penurunan satu hari terburuk sejak bulan lalu ketika mencatat rekor penurunan 7777 poin dan persentase penurunan paling tajam sejak 1987.

Dalam sebuah peristiwa penurunan yang brutal, indeks Standard & Poor`s jatuh 90,17 poin atau 9,03 persen menjadi 907,84.Indeks saham reknologi komposit Nasdaq berkurang 150,68 poin atau 8,47 persen menjadi 1.628,33 dalam sesi kejam lainnya untuk saham, meski ada upaya penyelamatan besar-besaran untuk sektor perbankan yang "sakit"."Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," kata Al Goldman dari Wachovia Securities.

"Hari ini berkembang kekhawatiran bahwa kemerosotan ekonomi akan beralih menjadi kontraksi yang signifikan karena kebekuan kredit bulan-bulan lalu mulai menunjukkan kenaikan dalam data," kata para analis Charles Schwab dalam catatan pasar terbarunya."Penjualan ritel turun lebih besar dari perkiraan, dan survei manufaktur mencatat penurunan besar. Perusahaan-perusahaan sensitif ekonomi memasuki masa kemunduran."

Pasar-pasar utama dunia kembali berjatuhan, di London indeks FTSE 100 turun 7,16 persen sementara di Paris, indeks CAC 40, merosot 6,82 persen dan di Frankfurt, indeks DAX, turun 6,49 persen.Aksi pasar terjadi di tengah berita bahwa penjualan ritel AS turun 1,2 persen pada September, sebuah sinyal dari masalah mendalam untuk sebuah ekonomi yang sakitakibat pasar finansial yang memburuk dan kredit ketat.

Penurunan penjualan merupakan yang terbesar sejak Agustus 2005 dan lebih lemah daripada ekspektasi pasar turun 0,7 persen."Data penjualan ritel menggarisbawahi pasar yang lebih tertekan kekhawatiran sekarang, yang merupakan arah dari ekonomi," kata Gregory Drahuschak dari Janney Montgomery Scott.

"Situasai pasar kredit masih berubah terus menerus, namun para pedagang dalam banyak kasus melihat di luar ini dan merasa ragu berapa lama pelambatan ini akan berakhir."Carl Weinberg, kepala ekonom High Frequency Economics, mengatakan sekalipun aliran kredit diperbaiki, masalah belum berakhir."Ekonomi dunia masih di ambang resesi meski ada upaya penyelamatan pasar finansial global," kata Weinberg.

Sementara itu di Asia dan Eropa para investor melakukan aksi ambil untung setelah saham-saham di Wall Street berakhir melemah pada Selasa, meski diberitakan Washington akan menyuntikkan hingga 250 miliar dolar AS ke dalam bank-bank yang kesulitan dan membantu mengakhir krisis finansial terburuk sejak 1930.Di antara saham-saham dalam fokus, JPMorgan Chase turun 5,8 persen menjadi 38,49 dolar sekalipun telah mencatat laba lebih baik dari perkiraan untuk kuartal ketiga. Wells Fargo, yang juga labanya lebih baik dari perkiraan, turun tipis 0,51 persen menjadi 33,35
dolar.

Raksasa chip komputer Intel turun 5,9 persen menjadi 14,99 dolar setelah labanya dilaporkan melampaui proyeksi.Saham utama lainnya, ExxonMobil turun 13,9 persen menjadi 62,35 dolar karena harga minyak mentah terus menurun. Rivalnya, Chevron merosot 12,5 persen menjadi 59,98 dolar.

Sementara obligasi "rally" dengan imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10-tahun berkurang menjadi 4,011 persen dari 4,023 persen pada Selasa dan obligasi negara bertenor 30-tahun turun menjadi 4,248 persen terhadap 4,260 persen. Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. ant/afp/kp.

Kamis, 16 Oktober 2008
By Republika Contributor

Hanya Terpakai Rp 8 Miliar; Gunakan Kembali Dana BUMN untuk Ekspansi Usaha

Badan usaha milik negara hanya sempat membeli kembali atau buy back saham mereka sebesar Rp 8 miliar, padahal dana yang disiapkan Rp 7 triliun. Itu terjadi pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Senin (13/10), setelah perdagangan di bursa dihentikan pada 8 Oktober.

Menurut Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil, hal itu terjadi karena harga saham emiten BUMN telanjur naik melampaui harga pada penutupan perdagangan di hari sebelum bursa ditutup.

BUMN-BUMN yang sudah menyiapkan dana pembelian kembali sahamnya, kata Sofyan, tidak diperkenankan melanjutkan pembelian kembali saham mereka. Pembelian kembali hanya boleh dilakukan bila harga sahamnya lebih rendah dibandingkan dengan harga pada hari bursa sebelumnya.

Bursa terakhir kali dibuka hanya setengah hari pada 8 Oktober 2008 dan ditutup pada pukul 11.00 WIB. Bursa kembali dibuka Senin (13/10). Penutupan tersebut dilakukan otoritas BEI karena menilai ada pergerakan harga yang anomali.

”Dana yang disiapkan untuk melakukan buy back memang mencapai Rp 7 triliun, tetapi kenyataannya yang bisa digunakan hanya Rp 8 miliar. Ini disebabkan harga saham yang akan dibeli kembali melonjak sehingga BUMN tak diperkenankan membeli kembali saham mereka,” paparnya, menjelang Rapat Kerja Komisi XI DPR, Selasa (14/10) di Jakarta. Rapat kerja itu juga dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Pemerintah telah menetapkan lima kebijakan untuk menstabilkan pasar modal, antara lain memerintahkan BUMN untuk melakukan pembelian kembali saham. Untuk mendorong kebijakan itu, BUMN atau emiten swasta tidak perlu menunggu rapat umum pemegang saham.

Ada sembilan BUMN yang menyatakan siap membeli kembali saham mereka, yakni PT Telkom Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk. Total dana yang disiapkan untuk pembelian kembali saham Rp 7 triliun, yang berasal dari dana BUMN itu sendiri.

Ekspansi usaha

Pengamat Ekonomi Senior Indef Fadhil Hasan menilai, rendahnya realisasi dana yang digunakan untuk pembelian kembali saham akan lebih baik buat BUMN bersangkutan. BUMN dapat lebih fokus untuk ekspansi usaha.

”BUMN bisa terhindar dari risiko turunnya kembali harga saham yang di-buy back,” ujarnya.

Ekonom, Dradjad H Wibowo, berpendapat, kebijakan beli balik saham sebaiknya dikembalikan pada kearifan korporasi. ”Pemerintah tidak perlu ikut campur sehingga risiko hukum, risiko likuiditas, dan pasar terhadap BUMN bisa dikurangi,” katanya.

Menteri Keuangan menyatakan, pihaknya tetap menyiagakan dana Rp 4 triliun untuk pembelian kembali saham BUMN. Dana itu dikelola Pusat Investasi Pemerintah Rp 2,5 triliun, sisanya dipegang PT Perusahaan Pengelola Aset.

”Jika dana itu tidak jadi dipakai buy back, kami akan mengembalikannya pada fungsi awalnya, yakni membiayai infrastruktur dan restrukturisasi BUMN,” ujar Menteri Keuangan, yang juga Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian. (OIN).

Rabu, 15 Oktober 2008

Kompas

Bursa Efek Berikan Sinyal Positif ;Menkeu: Pemerintah Tidak Panik

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mulai memberikan tanda-tanda membaik. Setelah pekan lalu anjlok cukup dalam, indeks harga saham gabungan pada perdagangan saham, Senin (13/10), akhirnya ditutup menguat.

IHSG ditutup naik 10,20 poin (0,7 persen) menjadi 1.461,87. Sekalipun tidak signifikan, penguatan sebesar 0,7 persen itu cukup melegakan pelaku pasar modal Indonesia karena sebelumnya banyak pihak memperkirakan IHSG masih akan mengalami koreksi tajam.

”Kami memperkirakan IHSG memang masih akan terkoreksi karena adanya penyesuaian dengan penurunan indeks bursa global saat bursa kami tutup, tetapi hari ini ternyata naik. Ini patut kita syukuri,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Pada Rabu lalu perdagangan seluruh saham dan derivatif di BEI dihentikan menyusul anjloknya IHSG hingga 10,38 persen. Penurunan itu dianggap cukup parah karena selama dua hari perdagangan sebelumnya IHSG juga telah terkoreksi 11,79 persen.

Selama BEI ditutup (Rabu- Jumat), Indeks Dow Jones Industrial Average telah terkoreksi lebih dari 10,54 persen. Anjloknya indeks paling berpengaruh di dunia itulah yang diperkirakan akan menekan IHSG pada perdagangan Senin.

Pada perdagangan sesi pertama, kemarin, IHSG memang sempat anjlok sampai 6 persen lebih. Namun, pada sesi kedua, IHSG mulai berbalik arah dan ditutup naik 0,7 persen.

Dari 204 saham yang diperdagangkan, 72 saham tercatat naik, 97 saham turun, dan 35 saham tetap. Jumlah transaksi tercatat sebanyak 73.726 kali dengan volume 11,32 miliar saham, senilai Rp 7,499 triliun.

Sebagian besar saham yang mengalami kenaikan harga adalah saham yang memiliki kapitalisasi besar, seperti saham PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Perusahaan Gas Negara.

Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, penguatan IHSG kemarin lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu menguatnya indeks bursa regional menyusul keluarnya pengumuman dari Bank Sentral Eropa yang menyatakan akan menjamin likuiditas perbankan.

Kemarin, hampir semua indeks bursa regional ditutup menguat. Indeks Straits Times di Singapura naik 6,57 persen, Indeks Hang Seng di Hongkong naik 10,25 persen, dan Indeks Shanghai di China naik 3,65 persen, sedangkan bursa Jepang masih belum dibuka menyusul anjloknya Indeks Nikkei 225 sebesar 9,62 persen, Jumat lalu.

Selain pengaruh membaiknya bursa regional, pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, perdagangan saham di BEI kemarin cukup stabil karena adanya aturan baru auto rejection atau penghentian perdagangan saham otomatis.

Menurut dia, aturan auto rejection yang baru—yang membatasi kenaikan dan penurunan harga saham maksimal 10 persen—membuat pergerakan IHSG menjadi tidak terlalu fluktuatif.

Pemerintah ”all out”

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di depan anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia menegaskan, pemerintah tidak panik dan tidak hanya memerhatikan harga saham. ”Itu pasti! Pemerintah fokus pada sektor yang sangat strategis, yaitu perbankan secara all out. Kinerja dan fungsi perbankan adalah jaminan pemerintah,” ujarnya.

Fokus kedua adalah pemerintah sangat perhatian pada upaya menjaga perekonomian, terutama pelaku ekonomi, baik besar, menengah, maupun kecil di pusat dan daerah, untuk tetap memiliki lingkungan bekerja dan berusaha yang sedapat mungkin diproteksi dari gelombang krisis.

Di Malang, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah sangat mewaspadai perkembangan krisis keuangan di AS dan mengamati perkembangan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Sri Mulyani kemudian meminta pengusaha betul-betul menjaga perekonomian Indonesia dengan menahan diri. Pemerintah dan Bank Indonesia akan memonitor tingkah laku individual pelaku usaha. Dalam situasi sekarang ini, kesalahan setitik saja akan berdampak sangat besar bagi perekonomian bangsa.

Dalam kesempatan itu, Menkeu membuka ruang untuk tetap melakukan ekspansi secara terukur tahun depan. Pemerintah akan tetap fokus pada konsolidasi APBN dan fiskal yang memperkuat neraca keuangan.

”Saya meminta semua pengusaha melihat masing-masing neraca keuangannya. Anda perlu melihat neraca ini untuk mereview. Kalau kemarin-kemarin melakukan ekspansi terlalu berlebihan dan risiko menjadi sangat besar, pengusaha tentu tidak mampu menghadapi dampak yang mengejutkan ini,” ujarnya.

Ekonom Ryan Kiryanto mengatakan, prospek perekonomian ke depan masih tetap kondusif. Alasannya, pertama harga saham di BEI sudah terbilang rendah sehingga ini merupakan momentum untuk membeli. Kedua, permintaan dollar AS makin berkurang. Ketiga, suku bunga acuan atau BI Rate jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga di negara-negara lain, terutama suku bunga Bank Sentral AS.

Keempat, operasi perusahaan terbuka masih berjalan normal sehingga prospek sahamnya masih bagus. Kelima, Indonesia punya sumber daya alam melimpah, seperti pertanian dan pertambangan, yang bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. (ody/REI/OSA/FAJ).

Selasa, 14 Oktober 2008

Kompas

Tak Akan Menjelma Jadi Krisis

Kejatuhan bursa saham dan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam sepekan ini dinilai kecil kemungkinan menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Demikian kesimpulan diskusi panel Kompas yang menghadirkan pengamat ekonomi Faisal Basri, Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara, serta Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud, Jumat (10/10) di Jakarta.

Para panelis menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Hal senada dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat terpisah. Menurut Kalla, sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wapres.

Faisal Basri mengingatkan, penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS.

Penurunan ekonomi AS dan Eropa juga tak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Tony Prasetiantono menjelaskan, krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial.

Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Mirza Adityaswara menambahkan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus lebih fokus menjaga ketahanan sistem perbankan. Sebab, kehancuran sektor inilah yang sebenarnya dapat memicu krisis ekonomi.

Kondisi perbankan juga sangat menentukan pertumbuhan ekonomi. Investasi swasta dan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi, amat mengandalkan kredit sebagai sumber pembiayaan.

Erwin Aksa Mahmud mengatakan, yang menjadi prioritas saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat tidak turun agar ekonomi tetap tumbuh. Caranya, memberikan insentif kepada sektor riil dan menyetop kenaikan suku bunga.

Batal buka BEI

Jumat kemarin, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

”Kami tidak ingin perusahaan Indonesia yang listed (terdaftar di BEI) menghadapi imbas yang tidak perlu, hanya karena masalah sistemik dari krisis keuangan global. Jadi, yang kami cari adalah waktu yang tepat (untuk membuka kembali bursa),” kata Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.

Penyesatan

Sementara itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui adanya penyesatan informasi atas perdagangan sejumlah saham di BEI. Penyesatan informasi tersebut telah mengakibatkan harga saham sejumlah emiten jatuh di posisi yang cukup rendah.

”Memang ada pihak-pihak yang kami curigai sengaja memberikan informasi yang salah supaya harga saham jatuh, lantas nanti ada yang mau ambil. Saya tak mau bilang siapa karena tidak etis,” kata Ahmad Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, sambil menambahkan, pihak yang menyesatkan informasi di pasar modal itu ada yang berasal dari kalangan investor dan ada dari perusahaan sekuritas atau broker.

Menurut dia, Bapepam-LK akan memeriksa investor dan broker yang diduga telah melanggar peraturan pasar modal itu setelah situasi mereda.(FAJ/REI/HAR/OIN)

Sabtu, 11 Oktober 2008
Kompas

Usut Tuntas Pelanggaran di Bursa Efek Indonesia

Otoritas pasar modal diminta untuk segera mengusut tuntas segala bentuk pelanggaran yang terjadi dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 22,17 persen hanya dalam waktu tiga hari tidak terlepas dari berbagai pelanggaran yang marak terjadi.

Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI) ND Murdani, Kamis (9/10), mengatakan, koreksi besaran-besaran yang daialami IHSG sejak Senin sampai Rabu lalu tidak lagi hanya dipengaruhi oleh sentimen negatif investor terhadap buruknya kondisi bursa global menyusul krisis finansial di Amerika Serikat. Kejatuhan indeks yang dalam itu juga dipengaruhi oleh berbagai aksi yang jelas-jelas melanggar peraturan pasar modal.

"Indikasinya jelas. Otoritas pasar modal harus mengusut dan membuktikannya," ujar Murdani sambil menambahkan, salah satu indikasi pelanggaran yang paling terasa belakangan ini yaitu penyesatan informasi tentang rencana aksi korporasi sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia. Penyesatan itu mengakibatkan informasi simpang siur sehingga membuat investor semakin panik dan akhirnya menjual saham-saham dengan harga murah.

Penyesatan informasi yang dimaksud Murdani, antara lain, bertolak belakangnya pernyataan antara komisaris dan direksi sebuah perusahaan asing tentang jadi atau tidaknya pelaksanaan penawaran tender saham perusahaan terbuka di Indonesia yang baru saja diambil alih. Penyesatan lainnya juga tentang ketidakjelasan informasi gadai saham sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia dan penundaan-penundaan akuisisi sebuah bank.

Semua informasi yang tidak jelas itu, lanjut Murdani, sangat jauh dari prinsip keterbukaan di pasar modal. Seringkali hal itu menimbulkan kerugian bagi investor kecil karena salah dalam mengambil keputusan menjual atau membeli sebuah saham.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, penyesatan informasi itu jelas telah melanggar Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Dalam pasar 90 UU itu, antara lain disebutkan bahwa setiap pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apa pun serta dilarang membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material.

Menurut Yanuar, penyesatan informasi itu biasanya didahului dengan menghembuskan isu negatif atau positif, tergantung tujuan pihak yang menyebarkan isu, apa akan membeli atau menjual saham.

Setelah rumor dihembuskan, pihak tersebut akan melakukan aksi jual atau membeli saham dalam jumlah tertentu untuk memperkuat isu yang disebarnya. Setelah harga saham jatuh atau meningkat ke tingkat yang diinginkan, saat itulah pihak yang menyebarkan rumor membeli atau menjual saham tersebut secara besar-besaran.

Praktik-praktik seperti ini, lanjut Yanuar, sebenarnya tidak sulit untuk diselidiki. ”Tapi, selama ini otoritas pasar modal kita seperti tutup mata dengan praktik-praktik kotor itu.,” kata Yanuar.

Selain penyesatan informasi, pengamat pasar modal Adler Manurung mengatakan, jenis pelanggaran yang terjadi di bursa Indonesia sangat beragam. Pelanggaran-pelanggaran itu mengakibatkan pasar modal Indonesia menjadi liar, sehingga sulit dibedakan antara spekulasi (judi) dan investasi.

Suspensi BEI Dicabut

Sementara, perdagangan di Bursa Efek Indonesia atau BEI dibuka kembali mulai hari ini, Jumat (10/10). Ini dilakukan karena otoritas bursa memperkirakan kondisi pasar sudah mulai pulih kembali mulai hari itu.

Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/10) terkait dengan lima langkah yang disiapkan pemerintah untuk meredam krisis keuangan global.

Sri Mulyani menegaskan, pembukaan kembali perdagangan BEI tersebut disertai dengan berbagai langkah yang telah disiapkan pemerintah agar integritas bursa, tetap terjaga. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah antara lain menganalisa dan mengobservasi penyebab peristiwa yang terjadi Rabu lalu saat BEI disuspensi.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah menegaskan bahwa kabar yang menyatakan ada 30-40 broker yang merugi dalam beberapa waktu terakhir ini merupakan rumor yang tidak benar. Hingga saat ini, BEI hanya menerima laporan satu broker yang merugi, yakni PT Danatama.

Tiga arahan Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tiga arahan berisi fokus kerja pemerintah menghadapi krisis keuangan di Amerika Serikat yang berdampak luas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari tiga fokus itu, perhatian utama ditujukan untuk melindungi rakyat di akar rumput.

Tiga fokus itu adalah, pertama mengutamakan dan melindungi rakyat di akar rumput agar kebutuhan pokoknya terpenuhi seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lain tidak terganggu. APBN 2008 untuk belanja kementrian dan lembaga sebesar Rp 290 triliun akan dipercepat pengeluarannya di bulan Oktober sebesar Rp 25,9 triliun.

"Likuiditas sangat diperlukan untuk menjamin bergeraknya pembangunan ekonomi di Indonesia. Selama Januari-Oktober 2008, akan dicairkan 60 persen dari APBN," ujar Presiden dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/10).

Kedua, memastikan agar sektor riil, utamanya dunia usaha tetap berjalan meskipun penurunan ekspansi tetap bisa dipahami. Untuk ini, koordinasi telah dilakukan agar dunia usaha tidak kehilangan orientasi. Presiden minta, ketergantungan terhadap faktor luar harus terus dikurangi.

Ketiga, terhadap gonjang-ganjing di pasar modal, saham, dan moneter, Presiden mengakui banyak penyebabnya berada di luar jangkauan pemerintah karena pasar itu tunduk pada hukum-hukum globalisasi. Untuk upaya maksimal mengatasi gonjang-ganjing itu, Presiden memastikan sistem telah dan terus bekerja untuk merespon dan mengantisipasi setiap dampak.(rei/OIN/inu)

Jumat, 10 Oktober 2008

Kompas


Investor Panik, Perdagangan Dihentikan

Jakarta, Kompas - Otoritas Bursa Efek Indonesia akhirnya menghentikan sementara perdagangan (suspensi) seluruh saham dan derivatif, Rabu (8/10) pukul 11.06 WIB. Suspensi dilakukan karena penurunan indeks harga saham gabungan sudah berada di luar batas kewajaran.

Pada perdagangan saham sesi pertama kemarin, IHSG anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen menjadi 1.451,66 poin. Penurunan IHSG sedalam itu dinilai tidak masuk akal karena total nilai transaksi perdagangan saham dan derivatif (turunan saham) sampai menjelang suspensi dilakukan relatif kecil, hanya Rp 952,16 miliar.

”Kalau nilai perdagangan Rp 3 triliun-Rp 4 triliun, penurunan 10 persen mungkin masih bisa diterima akal karena saat ini seluruh bursa global juga terkoreksi. Namun, dengan nilai transaksi di bawah Rp 1 triliun, penurunan itu sangat irasional. Ada sesuatu yang tidak tepat,” kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah.

Menurut Erry, BEI harus segera melakukan suspensi pada saat perdagangan saham tengah berlangsung untuk menghindari IHSG jatuh lebih dalam lagi. BEI melihat bahwa aksi jual saham secara membabi buta yang dilakukan investor masih akan terus berlanjut jika perdagangan tetap dibuka.

”Hari ini (kemarin) pasar sangat panik. Kami sedang mencermati faktor-faktor lain yang menyebabkan pasar kita turun di luar pengaruh sentimen negatif terhadap pelemahan bursa regional dan global,” kata Erry.

Menanggapi penghentian sementara perdagangan, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan tak bisa dihindari.

Sementara itu, semalam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat terbatas (ratas) yang membahas langkah pemerintah menyusul dihentikannya perdagangan saham di BEI. Dalam ratas itu hadir Wapres Jusuf Kalla, Deputi Gubernur Senior Miranda S Goeltom, Menteri Keuangan ad interim yang dijabat Menneg BUMN Sofyan Djalil, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, dan Ketua Umum Kadin MS Hidayat. Hingga pukul 23.30 ratas masih berlangsung.

Akumulasi 22,17 persen

Anjloknya perdagangan saham membuat akumulasi penurunan IHSG selama tiga hari terakhir mencapai 22,17 persen. Senin lalu, IHSG anjlok 10,03 persen dan Selasa turun lagi 1,76 persen.

Jika dibandingkan dengan level IHSG pada 2 Januari 2008 yang berada di level 2.731,51, posisi IHSG kemarin telah merosot 46,85 persen. Atau jika dengan posisi tertinggi IHSG pada 9 Januari 2008 pada level 2.830,26 telah turun 48,70 persen.

Beberapa saat setelah suspensi, BEI menggelar konferensi pers mendadak. Seusai konferensi pers, BEI juga melakukan pertemuan tertutup dengan petinggi semua perusahaan sekuritas di Indonesia. BEI belum dapat memastikan sampai kapan perdagangan akan dihentikan.

Pengamat pasar modal, Adler Manurung, menilai koreksi mendalam terhadap IHSG kemarin tak hanya dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap pelemahan indeks bursa global menyusul krisis finansial di AS. Koreksi itu juga sangat dipengaruhi transaksi naked short selling yang dilakukan spekulan.

Transaksi naked short selling adalah aksi menjual saham oleh investor yang sama sekali tidak memiliki saham dan jaminan berupa dana di perusahaan sekuritas. Investor melakukan transaksi itu dengan harapan harga saham akan turun untuk kemudian dibeli kembali pada hari yang sama.

Sekalipun dilarang oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Adler memastikan transaksi itu marak terjadi di pasar modal Indonesia karena pelakunya tidak pernah diungkap dan ditindak.

Adapun sejumlah investor menilai kejatuhan bursa kemarin juga sangat dipengaruhi oleh penjualan saham secara paksa (forced sell) terkait dengan transaksi margin para investor. Dalam hal ini, perusahaan sekuritas menjual saham investor yang punya pinjaman pada harga berapa pun.

Komaruddin Muchtar, seorang investor, bercerita, ”Tadi sore saya dihubungi broker dan bilang saham-saham saya akan dijual paksa berapa pun harganya. Ini jelas akan membuat indeks makin terpuruk,” kata Komaruddin.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, memperkirakan, jual paksa ini masih akan terus terjadi saat perdagangan saham akan dibuka kembali. Menurut dia, jual paksa menjadi marak terjadi karena selama ini perusahaan sekuritas berlomba-lomba memberikan pinjaman dana kepada investor untuk membeli saham tanpa jaminan memadai.

”Saat saham jatuh seperti sekarang, broker tidak mau ambil risiko. Saham-saham investor pun diobral. Ini adalah akibat dari pasar kita yang sangat liar, tidak pernah diawasi,” katanya.

Pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, mengatakan, BEI dan Bapepam-LK harus segera menjelaskan kepada publik apa yang terjadi. Menurut dia, anjloknya IHSG lebih dari 20 persen selama tiga hari menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam struktur dan mekanisme investasi di BEI.

Kamis, 9 Oktober 2008
Kompas

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management